Tampilkan postingan dengan label BERITA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BERITA. Tampilkan semua postingan

Merapi Siaga, Surono Pulang Kampung


Kepala Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi Surono berpikir untuk pensiun.

Ita Lismawati F. Malau

 
VIVAnews - Kepala Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi Kementrian ESDM Surono merupakan orang penting di Yogyakarta saat Merapi meletus. Selama sebulan ia memantau gunung api paling aktif di Jawa itu, sejak bertatus waspada sampai awas.
Kini ia lega begitu Merapi turun status menjadi siaga. "Saya mau pulang kampung dulu. Saya hampir 1 bulan ini tinggal di Yogyakarta," katanya di kantor BNPB, Jumat, 3 Desember 2010.

Meski sudah kangen dengan istri dan keluarga di Jawa Barat, Mbah Rono julukan Surono selama jadi 'kuncen' Merapi harus menunda kepulangannya, karena Sabtu besok harus menerima kunjungan tamu penting dan tidak dapat diwakilkan.

"Bandung kan dekat jadi tidak usah buru-burulah. Nikmati Merapi dulu," terangnya sembari menghirup sebatang rokok di tangannya. Mbah Rono yang sempat dinobatkan sebagai juru kunci Merapi pasca-meninggalnya Mbah Marijan ini mengaku pekerjaan penanganan bencana Merapi ini sangat berat.

"Kalau mau dihitung berat mana bebannya menangani Merapi dengan Gunung Sinabung [Sumatera Utara], semuanya berat karena keselamatan masyarakat di lereng gunung Merapi dan Sinabung di tangan saya," tandasnya.

Pulang ke rumah di Bandung juga membuat Rono bingung menjawab pertanyaan mahasiswanya mengenai waktu mengajar. "Sebagai dosen saya sudah tidak mengajar cukup lama." Saking beratnya tugas yang dia emban, Surono berpikir ingin segera pensiun dan menikmati hidup tanpa beban yang berat.

Mengakhiri pernyataannya, Surono tidak akan ke Gunung Bromo meski saat ini status gunung di Jawa Timur itu 'Awas.' "Besok saya akan datang lagi ke Yogya meski Merapi sudah normal. Saya kangen Merapi, kangen dengan wartawan Yogya yang ramah-ramah dan sering banyak bercandanya. Bikin pekerjaan saya lebih ringan," pungkasnya.
Laporan: Juna Sanbawa | Yogyakarta, umi
• VIVAnews 


Category: 0 komentar

Buka Pusat Kebugaran, Sediakan Makanan Suplemen


JOGJA - Tak hanya para pengungsi yang membutuhkan bantuan. Para relawan, juga memerlukan bantuan. Hanya, ini yang kerap terabaikan. Padahal, relawan harus tetap sehat, fit, bugar, dan bersemangat. Alhasil, banyak kesehatan relawan mulai drop dan terserang keletihan. Malah ada yang menderita infeksi saluran pernafasan atas (ISPA).
Melihat kondisi tersebut, distributor independen yang didukung Synergy Wolrdwide membuka pusat pemulihan kebugaran relawan atau health and fitness center for volunteer di Jogjakarta.
’’Kerja maraton menghadapi bahaya Merapi dilakukan relawan dan ini dibutuhkan kondisi badan yang benar-benar sehat dan fit. Untuk itu, kami merencanakan membuka posko layanan pemulihan kebugaran bagi relawan pada tanggal 28 November hingga 4 Desember,’’ kata Renny Cohen dari Synergy Leave A Legacy Indonesia kemarin (25/11).
Renny menambahkan, di posko tersebut, relawan bisa beristirahat sejenak. Selain itu, mereka diberi tambahan asupan makanan bergizi, baik dalam bentuk food supplement, layanan cek kesehatan dasar seperti cek tekanan darah, cek saluran pernafasan hingga hypnoterapi. Yakni menyediakan layanan pendampingan motivasi dan nilai di saat mereka istirahat serta refleksi bagi relawan.
’’Kami sediakan voucher dan relawan bisa memanfaatkan karena memang dikhususkan bagi relawan. Selain itu, kami sediakan pula produk klorofil yang bisa dimanfaatkan untuk mengurangi kotoran dalam tubuh,’’ imbuh Renny didampingi FX Harry Cahya, dari Synergy Indonesia Jogjakarta.
Ketua Perhimpunan Dokter Herbal Medik Indonesia (PDHMI) Dr Hardhi Prananta mengatakan, relawan tentu saja banyak terkena debu. Karena itu mereka membutuhkan multivitamin yang berfungsi mengeluarkan debu dari paru-paru.
’’Ramuan herbal seperti klorofil dan spirulina yang didistribusikan oleh Synergy sangat cocok untuk relawan karena mampu mengikat banyak oksigen di aliran darah. Ini cocok untuk daerah yang berdebu,’’ katanya.
Sebagai produsen chlorophyll dan spirulina, Synergy WorldWide juga peduli dengan menyalurkan dua produk tersebut ke berbagai posko pengungsian. Di antaranya ke Posko Muntilan, Posko Univesitas Sanata Dharma, Posko STIE YKPN dan Posko Maguwoharjo. ’’Lebih dari 5 ribu botol kecil,’’ imbuhnya. (hes)



Category: 0 komentar

Jumlah Relawan Mulai Berkurang


YOGYAKARTA, KOMPAS - Jumlah relawan di semua posko pengungsian korban letusan Gunung Merapi di Jawa Tengah dan DI Yogyakarta mulai berkurang. Kondisi itu terjadi menyusul aktivitas perkuliahan mulai normal Senin (15/11) ini. Selama ini sekitar 50 persen relawan adalah mahasiswa.
Menurut Koordinator Inter Gugus Tugas Tanggap Bencana Merapi Forum Pengurangan Risiko Bencana, Juli Eko Nugroho, jumlah relawan saat ini baru mencukupi 45 persen kebutuhan di pos pengungsian. ”Relawan di pos pengungsian tidak semua bisa bekerja penuh waktu. Kebanyakan mereka bekerja sesuai agenda pribadi sehingga tidak bisa dipaksakan penuh waktu,” kata Eko, Minggu (14/11).
Di posko pengungsian STIE YKPN, misalnya, 95 persen relawan adalah mahasiswa. Di posko pengungsian GOR Universitas Negeri Yogyakarta juga 150 relawan adalah mahasiswa. Di posko Universitas Sanata Dharma (USD) pun sama. Untuk Senin (hari ini), jumlah relawan di USD misalnya, yang sebelumnya 30 orang per hari kini 4 orang.
”Kalau mahasiswa sudah masuk kuliah, jumlah relawan otomatis akan berkurang. Oleh sebab itu, para pengungsi disiapkan untuk dapat mengelola pengungsian secara mandiri,” kata dosen yang juga relawan di posko pengungsian rusunawa USD, Ign Kristio Budiasmoro.
Relawan hanya bertugas menjaga logistik, sedangkan pengungsi ikut memasak dan menjaga kebersihan posko. ”Konsep pengungsi mandiri dibutuhkan untuk mengelola pengungsian dan bisa mengisi aktivitas sehari-hari di pengungsian,” kata psikolog dari UGM, Diana Setiyowati.
Radius bahaya direvisi
Hari Minggu, Badan Geologi merekomendasikan penurunan radius bahaya primer Merapi. Untuk Kabupaten Magelang dari 20 km menjadi 15 km, sedangkan untuk wilayah Boyolali dan Klaten masing-masing 10 km. Sementara Kabupaten Sleman tetap pada radius 20 km.
Salah satu pertimbangannya adalah energi Merapi telah jauh menurun dari periode letusan besar 3-8 November. ”Namun, status tetap Awas karena masih berbahaya,” kata Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Sukhyar.
Pemantauan pada intake pintu air hulu Selokan Mataram di Sungai Progo ditutup. Di hulu selokan itu dipenuhi endapan pasir dari lahar dingin Merapi. Timbunan endapan material vulkanik juga memenuhi sejumlah cekdam sungai lahar dingin berjarak 10-12 km dari puncak Merapi.
Muntilan menggeliat
Sementara itu, situasi Muntilan, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, kini mulai menggeliat. Para pelaku usaha mulai berbenah dan membuka toko meskipun pembeli masih sedikit. Agar tak terkena debu vulkanik Merapi, pintu toko hanya dibuka sebagian. Beberapa toko bahkan menutup pintu toko dengan plastik transparan yang ditulisi ”Buka”.
Sejumlah pengungsi di Kabupaten Klaten, Boyolali, dan Magelang juga mulai kembali ke rumah masing-masing. Mereka jenuh di pengungsian sehingga ingin mulai beraktivitas mengurus rumah, ternak, dan sawah.
Namun, pengungsi di Kabupaten Boyolali yang kembali ke rumah dibayangi krisis pangan sebab stok pangan yang dimiliki tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan harian sampai kembali mendapatkan penghasilan. ”Sekarang makannya hanya nasi dengan sayur yang tersisa saja karena belum ada uang untuk beli lauk-pauk,” ujar Widodo, seraya mengaku tanaman sayurannya rusak total terkena abu Merapi.
Bantuan Taiwan
Pemerintah Taiwan dan kalangan swasta diwakili Andrew Hsia, Kepala Urusan Ekonomi dan Perdagangan untuk Indonesia, menyatakan empati dan dukacita atas musibah letusan Gunung Merapi. Mereka berharap korban segera bangkit untuk melakukan aktivitas. Bantuan dari Pemerintah Taiwan dan komponen masyarakat lain di negara itu segera tiba di Yogyakarta.
”Barang-barang bantuan yang akan kami kirimkan adalah paling sedikit 10.000 sandal, 10.000 selimut, dan 10.000 pakaian, di samping sejumlah obat-obatan,” kata Hsiao-Tzung mewakili Andrew sambil menyatakan, nilai bantuan itu sekitar 200.000 dollar AS. (art/eng/tht/HRD/ top/hen/who/wie/ilo/egi)


KOMPAS/IWAN SETIYAWAN


Category: 0 komentar

Sosok : "Lebih Dekat dengan "Mbah Rono"

Oleh: Doty Damayanti & Mohamad Final Daeng

Wajah lelah kurang tidur dari pria berkumis dan berkacamata dengan rambut agak kribo itu akrab bagi pemirsa televisi. Kalimat yang dia ucapkan tidak pernah bombastis meski itu menyangkut bencana letusan Gunung Merapi—gunung teraktif di Indonesia—yang sejak 26 Oktober lalu letusannya kian mengancam jiwa mereka yang berdiam di sekitar Merapi.

Bergulat dengan perilaku gunung api sejak tahun 1982, tugas yang diemban Surono meliputi tiga aras: riset pengetahuan, publikasi, dan keselamatan warga. Tiga kepentingan yang sering kali memunculkan dilema.

Lulusan jurusan Fisika ini terpanggil menekuni kegunungapian setelah pengalamannya membawa seorang periset Amerika Serikat ke Gunung Galunggung, Provinsi Jawa Barat, tahun 1982, sementara Gunung Kelud memberikan pelajaran baru tentang berubahnya perilaku sebuah gunung api. Kelud yang dikenal ledakannya yang eksplosif (meletus dengan kekuatan besar) menjadi efusif (materi piroklastik tidak dilontarkan ke udara, tetapi meleleh, mengalir di punggung gunung).

Tugasnya mengawal Gunung Merapi kali ini entah kapan berakhir. Tak seorang pun tahu. Namun, Surono pasti akan tetap setia untuk menerapkan prinsipnya: toleransi nol demi keselamatan jiwa manusia (zero tolerance for a safe life).

Di bawah merupakan rangkuman wawancara Kompas di berbagai kesempatan, termasuk di sela-sela kesibukannya melihat pemasangan alat seismik di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Sabtu (6/11/2010).

Ambil alih komando 

Sejak Merapi berstatus Awas pada 25 Oktober lalu, Surono, sebagai Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, mengambil alih komando pemantauan dan mitigasi bencana yang sebelumnya dipegang Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian Yogyakarta.

Sejak saat itu seluruh data pemantauan instrumental dan visual Merapi diolah, diserap, dan dianalisisnya untuk mengambil keputusan-keputusan penting, khususnya terkait dengan keamanan warga di sekitar Merapi—ini terkait dengan penentuan radius bahaya primer Merapi.

Tugas yang diembannya amat berat mengingat faktor-faktor: tingkat kesulitan yang tinggi dalam memprediksi perilaku suatu gunung api, keselamatan jiwa warga yang dipertaruhkan, serta dampak-dampak sosial, ekonomi, dan psikologis dari sebuah keputusan. Di ranah itulah posisi Surono berada. Selalu menghadapi dilema dari waktu ke waktu. Hasil analisis dan keputusannya diteruskan sebagai rekomendasi kepada pemerintah daerah sekeliling Merapi dan pihak-pihak terkait lainnya.

Rekomendasi itu menjadi patokan bertindak, khususnya dalam upaya mitigasi dengan mengevakuasi warga. Maka, Surono pun sering dipanggil dengan sebutan Mbah Rono, mengacu pada panggilan kuncen gunung—yang perannya dekat dengan warga.

Salah satu saat paling krusial adalah saat dia menaikkan status Merapi dari Siaga (level III) menjadi Awas (level tertinggi), pada 25 Oktober. Status Awas mengandung konsekuensi: pemerintah harus mengungsikan puluhan ribu penduduk dari ”zona merah”—saat itu radiusnya 10 kilometer dari puncak.

”Jika jarak waktu antara status Awas dan letusan terlalu pendek, pemerintah daerah tidak akan punya cukup waktu mengevakuasi warga. Namun, jika jaraknya terlalu lama, akan menimbulkan masalah sosial besar karena warga akan terlalu lama di pengungsian,” ujarnya suatu waktu.

Dengan segala pengalaman, pengetahuan, dan teknologi terbatas untuk memahami gunung berapi, Surono harus mengambil keputusan dalam kondisi genting. Benar saja, 35 jam setelah ditetapkan berstatus Awas, Merapi meletus pertama kali pada 26 Oktober pukul 17.02.

Meski puluhan ribu jiwa terselamatkan, Surono tetap merasa gagal karena masih terdapat 32 korban jiwa, termasuk juru kunci Merapi, Mbah Maridjan. ”Saya merasa gagal karena ternyata tidak bisa dipercaya oleh mereka yang masih bertahan di zona bahaya,” ujar Surono.
Tidak ada pengetahuan yang bisa mengontrol kemauan alam, termasuk mengatur Merapi.
Letusan 26 Oktober itu bukan babak akhir drama Merapi tahun ini. Rentetan letusan hingga Jumat (5/11/2010) terus terjadi—letusan pada 3 November dan 5 November berskala lebih dahsyat dibandingkan dengan letusan 26 Oktober. Keputusan-keputusan krusial terus menghadang dari waktu ke waktu.

Bahkan sempat keputusan memperluas radius berbahaya menjadi berbeda dengan pemerintah setempat. Radius bahaya terus meluas dari 10 km menjadi15 km (3 November) dan menjadi 20 km pada 5 November. Tugas Surono masih panjang karena tidak ada yang tahu kapan gejolak Merapi akan berhenti. Tak ada yang bisa menjamin klimaks letusan telah tercapai.

Tugas Surono semakin berat dan memusingkan karena kali ini Merapi keluar dari tabiat khasnya yang ”kalem” dan tidak meledak-ledak. Meski sudah ada persiapan sejak tahun 2007, setelah Merapi meletus 2006, tak seorang pun mengira letusan kali ini bakal sedemikian besar.

”Tadinya kami mengira masyarakat kita sudah cukup terdidik untuk menghadapi bahaya letusan Merapi. Masyarakat masih terus mengacu pada pengalaman letusan-letusan sebelumnya. Padahal, generasi yang mengalami letusan tahun 1930 tinggal sedikit, sementara letusan tahun 1994 dan 2006 sifatnya hanya sektoral dan kecil. Kita perlu belajar bahwa ternyata Merapi berubah,” tutur Surono.

Ingatan empiris 

Dia menjelaskan, karena acuan yang ada hanya ingatan empiris, pada waktu Awas masyarakat tidak melihat api diam, juga tidak terbiasa dengan status Awas yang demikian pendek. Rupanya kekagetan melihat perilaku Merapi yang berubah juga dialami ilmuwannya. Sejak tanggal 23 Oktober, energi Merapi meningkat langsung menjadi tiga kali lipat daripada letusan 1997, 2001, ataupun 2006.

”Sewaktu kita mau menaikkan ke status Awas, proses pengambilan keputusannya jadi krusial karena hanya sejam,” katanya.

”Tidak ada pengetahuan yang bisa mengontrol kemauan alam, termasuk mengatur Merapi. Yang tahu maunya Merapi, ya cuma Merapi sendiri. Saya hanya membaca dan menyampaikan pesan-pesannya,” ujarnya.

Dia kini sering menambahkan, ”Mari kita berdoa, berharap yang terbaik yang terjadi, semoga kondisi tidak semakin parah.”

Sebagai upaya mitigasi, tidak perlu semua gunung api ditambah alat pemantau. ”Selektif saja, di daerah bahaya yang dekat dengan tempat wisata. City volcano, seperti Merapi ini, perlu ditambah peralatan pemantaunya, makanya kita datangkan dari Sinabung. Dari empat stasiun pemantau di Merapi, tinggal Plawangan yang menyala, tiga yang lain mati, tidak kuat terkena erupsi. Sekarang sedang kita tambah dengan memasang alat pemantau di UGM, Museum Merapi, dan Imogiri,” tuturnya.

Dia menegaskan, data dari pos-pos gunung api adalah lini pertahanan terdepan, lini kedua ada di kantor pusat vulkanologi di Bandung. ”Sistem peringatan dini yang kita pasang harus disertai riset tentang karakter setiap gunung api,” lanjutnya.

Sebagai negeri di daerah cincin api dengan 129 gunung api, negeri ini kaya akan ilmuwan. ”Ahli kita banyak sebenarnya, banyak yang dilamar oleh lembaga riset luar negeri. Riset itu penting, tetapi tetap harus berguna, harus bisa dipakai untuk mitigasi, what next, jangan sampai riset itu kesimpulannya masih kurang data dan perlu riset lanjutan,” tegasnya.

Teknologi yang dimiliki Indonesia sebenarnya telah mencukupi. Dia tak rela jika Indonesia menjadi laboratorium dunia. ”Orang luar mencoba alat, lalu kalau bagus dijual ke kita. Ketika Badan Geologi AS (USGS) menawari Indonesia masuk dalam pemantauan 1.000 gunung api, saya tanya ke staf saya, ’Bisa tidak kamu belajar di sana lalu kamu curi ilmunya’.”

”Target kita, tahun 2011 sudah harus mandiri dalam teknologi. Tahun ini peta kawasan rawan bencana gunung api tipe A sudah harus selesai agar pemerintah daerah bisa segera menyesuaikan dengan penyusunan tata ruang,” ungkapnya. (Brigitta Isworo Laksmi)



Category: 0 komentar

Kala Mbah Rono Hanya Bisa Menggeleng

Kisah dari Merapi


KOMPAS.com - Rambut lebat beruban itu mencolok di tengah kerumunan wajah-wajah tegang yang mengamati pergerakan jarum seismograf di ruang pemantauan aktivitas Gunung Merapi di kantor Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta, Rabu (3/11/2010). Makin kencang jarum bergerak naik-turun, makin dalam isapan rokok kreteknya.

Sorot matanya terpaku pada jarum-jarum seismograf (alat pencatat kegempaan) dan layar monitor CCTV pemantau puncak Merapi. Sesekali dia menggeleng-gelengkan kepala, mengisyaratkan tanda tak percaya.

Seperti itulah keseharian Surono, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi, belakangan ini. Lelaki yang cukup sering ditampilkan berbagai media elektronik ini merupakan ”komandan” pemantauan aktivitas Merapi, sejak letusan eksplosif terjadi 26 Oktober lalu.

Letusan Merapi Rabu pekan ini, 3 November 2010, awalnya diperkirakan sebagai letusan terdahsyat sepanjang krisis 2010. Sempat mereda dua jam, aktivitas Merapi berlanjut meningkat hingga kemarin.

Kegawatan itu sontak menghapus senyum dan keceriaan Surono. Ketegangan dan kecemasan yang menggelora di dalam dirinya menambah kusut wajahnya. Waktu tidurnya pun semakin pendek.

Sebagaimana diberitakan, gelombang awan panas Merapi pada 3 November berdurasi hingga dua jam dengan jarak luncur terjauh mencapai 11,5 kilometer. Ini jauh lebih dahsyat dari kejadian 26 Oktober yang durasi maksimalnya 33 menit dengan jarak luncur 7 km.

Dua hari belakangan ini, tanggal 4-5 November 2010, gelombang erupsi dan luncuran awan panas lagi-lagi mengejutkan. Muntahan Merapi meluluhlantakkan segala yang dilintasi dan menciptakan rekor baru jarak luncur, hingga 14 km, yang berakhir di wilayah Kecamatan Cangkringan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Tak heran jika babak krisis Merapi sepanjang 3-5 November membuat ilmuwan, pengamat, dan pejabat vulkanologi berpengalaman seperti Surono hanya bisa geleng-geleng kepala. Letusan yang membuat pria yang akrab dipanggil Mbah Rono—karena dianggap sebagai ”juru kunci” versi ilmiah untuk 129 gunung berapi di Indonesia—ini takjub sekaligus takut.

"Kita hanya bisa menangkap pesan-pesan yang disampaikan Merapi, tetapi tak bisa memprediksi maunya apa. Skenario letusan hanya Merapi sendiri yang tahu," ujar Surono, yang sejak awal sudah menduga letusan tahun ini berenergi tiga kali lebih besar ketimbang tahun 1997, 2001, dan 2006.

Ilmu baru

Kepala BPPTK Subandriyo mengatakan, berbagai babak fase letusan Merapi 2010 dari kaca mata ilmiah menjadi sangat menarik. Pertama, letusan tahun ini di luar tabiat Merapi yang selama beberapa dekade terakhir tidak pernah meledak-ledak (eksplosif).

"Belum pernah kita jumpai letusan Merapi sedahsyat ini dalam seabad terakhir," katanya. Ditambahkan, letusan tahun ini hampir menyamai letusan dahsyat Merapi pada 1872. Kala itu, Merapi meletus dengan skala eksplosivitas 4 dari skala 8, atau yang tertinggi untuk ukuran Merapi.

Saat itu, suara letusannya dikabarkan terdengar hingga Pulau Madura di Jawa Timur dan Karawang di Jawa Barat. Volume material yang dilontarkan hampir mencapai 100 juta meter kubik dengan dampak hujan abu, awan panas, dan banjir lahar mencapai radius 20 km.

"Untuk letusan kali ini, kami belum bisa memastikan skalanya karena harus diteliti setelah semua fase erupsi selesai. Namun, diperkirakan sudah kisaran skala 3," kata Subandriyo.

Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Sukhyar sependapat dengan Subandriyo. "Jika dibandingkan letusan Gunung Galunggung tahun 1982, saya nilai ini (letusan Merapi kali ini) lebih dahsyat," katanya.

Waktu itu, kata Sukhyar, Galunggung memiliki energi erupsi yang kira-kira sama dengan energi Merapi saat ini. "Bedanya, Galunggung mencicil pengeluaran energi erupsi itu selama sepuluh bulan, sedangkan Merapi hanya dalam waktu dua minggu," katanya.

Soal banyaknya peningkatan aktivitas gunung-gunung berapi di Indonesia selain Merapi, Sukhyar mengatakan, hal itu tidak saling terkait. (ENG)

Category: 0 komentar

Bencana Merapi


Aneh Bin Ajaib, Padi Tak Tersentuh Lahar



SLEMAN, KOMPAS.com — Hulu Sungai Gendol di wilayah atas Cangkringan, Sleman, yang berjarak sekitar 5 km dari puncak Merapi, berubah menjadi gunungan setelah tertimbun material vulkanik yang dimuntahkan Merapi pada Kamis (4/11/2010) malam.

"Sebelum terimbun, sungai ini lebar dan dalam, kira-kira sedalam 30 meter. Seperti jurang kalau dilihat dari tepi sungai," kata Suwarjo (42), penduduk setempat, yang meninggalkan lokasi pengungsian untuk menengok rumahnya.

Ketika Antara mendatangi lokasi pada Sabtu (6/11/2010) siang dan menyaksikan hulu sungai itu dari jarak 5 meter, Suwarjo berteriak untuk memperingatkan bahwa material itu masih mengandung bara.

Bagi orang luar, bukan penduduk Cangkringan, fenomena sungai Gendol itu mencengangkan. Tak ada tanda-tanda sama sekali bahwa di bawah ribuan ton lahar itu ada sebuah sungai sedalam jurang. Aroma belerang yang menyengat tercium di kawasan berbahaya ini.

Di sekitar hulu sungai terdapat perkampungan penduduk yang sudah mengungsi. Atap rumah-rumah dan daun-daun pepohonan besar tertutupi abu dan pasir.

Kebun salak luluh lantak, porak-poranda. Cangkringan menjadi kawasan mati, dengan kerusakan yang masif.

Kawasan lereng Merapi yang mengalami kehancuran di mana-mana terjadi di Desa Glagaharjo. Sepanjang jalan menuju puncak Merapi, pohon-pohon bertumbangan. Tiang listrik dari beton patah. Tiang besi telepon pun roboh, membuat saluran kabel-kabelnya terburai.

Sejumlah rumah penduduk tampak berantakan. "Hujan pasir campur lahar membuat semuanya seperti ini," kata seorang penduduk setempat yang sedang menengok rumahnya.

Pemadangan di Cangkringan yang mengalami kerusakan di mana-mana itu terasa magis. Semua pohon besar bisa tumbang atau dahan-dahannya patah. Daun-daun pohon kelapa lunglai berwarna coklat kusam setelah tertimpa hujan pasir dan lahar. Perkebunan salak morat-marit. Tanaman jagung hanya tinggal onggokan kusam di pematang.

Namun, hamparan padi yang baru disemai, yang baru setinggi sepuluh senti meter, sama sekali utuh dengan warna kehijauan yang menyegarkan.

"Aneh bin ajaib. Pohon besar bertumbangan. Padi yang baru tumbuh itu seperti tak tersentuh lahar Merapi," komentar seorang yang mengantar Antara memasuki wilayah maut itu.

Pengamatan lapangan di Glagaharjo itu tak berlangsung lama karena seorang relawan yang datang mengingatkan untuk segera menjauh dari puncak Merapi.

Suara hujan angin disertai gelegak seperti air mendidih, yang datang dari perut Merapi itu, semakin menyadarkan bahwa Merapi bisa muntah sewaktu-waktu.

Aktivis-relawan penolong korban Merapi itu seperti mulai mengenal tabiat Merapi. Dia segera menarik pegas motornya dan melaju menjauh dari puncak Merapi. Dia tak mau berpacu melawan kecepatan lahar Merapi yang oleh pakar geologi diibaratkan sekencang mobil Formula Satu itu.
Category: 0 komentar

Bencana Alam


Merapi Meletus, Warga Nekat Naik


YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Gunung Merapi terus meletus, Jumat (5/11/2010) sore. Antara pukul 14.45 hingga 15.00, setidaknya terdengar enam kali dentuman keras dari arah Merapi. Dentuman terdengar dari jarak sekitar 20 kilometer dari puncak Merapi.
Meski berbahaya, masih banyak para pengendara motor maupun mobil yang tetap nekat melintasi jalan Kaliurang menuju Pakem. Meski sudah dipaksa memutar oleh warga dan para relawan, serta dipasang besi penutup jalan, masyarakat tetap nekat dengan berbagai alasan.
Pantauan Kompas.com di wilayah Pakem sekitar pukul 14.30 WIB, ratusan warga bergerak ke arah atas. Padahal, seluruh warga di Pakem sudah diungsikan ke radius 20 kilometer dari puncak Merapi sesuai perintah Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi.
Pakem sore ini seperti desa mati. Tak ada aktivitas apapun. Seluruh posko-posko telah dipindahkan termasuk posko utama penanggulangan bencana di Kecamatan Pakem.
Category: 0 komentar

'Janji Mbah Maridjan Jaga Merapi Hingga Ajal'


Jalan masuk kerumah atau Dukuh Kinahrejo sebagai rumah tinggal Mbah. Masih segar dan Hijau.
Kini . . . . . . ?

JAKARTA - Kepastian jasad Ki Surakso Hargo alias Mbah Maridjan masih diidentifikasi tim forensik di RS Dr Sardjito, Yogyakarta. Juru kunci gunung Merapi itu dikabarkan ditemukan tewas dalam kondisi bersujud terkena guguran awan panas.

Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso menyampaikan belasungkawa atas kabar tersebut. Di mata Priyo, Mbah Maridjan adalah sosok loyal yang mampu menjaga kearifan lokal di sekitar lereng Merapi.

"Saya bangga beliau menepati janjinya menjaga Merapi sampai ajal. Kita patut berterima kasih," kata Priyo di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (27/10/2010).

Mbah Maridjan namanya melambung ketika Merapi bergejolak tahun 2006 silam. Kala itu, dia menjadi 'penyambung' pesan alam kepada warga sekitar. Lahir tahun 1927 di Dukuh Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, Mbah Maridjan menjadi abdi dalem Kesultanan Yogyakarta.

Kemarin, saat sirine berbunyi pertanda terjadi letusan, mbah Mardijan tetap bertahan di rumahnya di Dusun Kinahrejo, Desa Umbulharjo. Padahal keluarga dan warga sekitar mulai mengungsi ke tempat yang aman.

Orang dekatnya menuturkan, Mbah Maridjan masih berdoa di masjid dekat rumahnya. Sejumlah relawan termasuk wartawan kemudian menjemput bintang iklan suplemen kesehatan itu untuk membujuk agar mau mengungsi. Namun, Tuhan berkata lain, belasan orang ditemukan tewas dalam kondisi dipenuhi abu vulkanik di sekitar kediaman Mbah Maridjan.(mbs)
Ferdinan - Okezone
 
 Komentar :
·         1. fhidayat | 09.11.2010 14:24
mungkin mbah marijan punya alasan tersendiri ... tapi chenia juga gak salah...menurut pendapat saya apa yang disampaikan chenia sangat logic dan bukan suatu bentuk penghujatan..perbedaan bukanlah kejahatan..tapi kekayaan...apa yang dilakukan mbah marijan juga bukanlah kejahatan tetapi keyakinannya yang harus kita hargai...begitu juga pendapat/opini seperti chenia adalah keyakinan pemikirannya yang harus kita hargai juga...so, jangan saling menghujat sesama bangsa Indonesia...kita do'akan mbah marijan mendapatkan tempat yang baik di sisi-Nya..aamiin..
·         4. yuyun | 08.11.2010 20:51
Apa yang dilakukan mbah maridjan adalah bukti kepatuhan beliau terhadap amanah.

Mbah Maridjan sudah meminta agar masyarakat disekitarnya turun, tetapi mereka tidak turun.

9. sheva | 05.11.2010 13:41
Kita harus mencontoh Mbah Maridjan, dia orang yg teguh memegang amanah bahkan sampai harus meregang nyawa... buat pemimpin2 bangsa ini malu donk ma mbah maridjan... si mbah cuma digaji 5 ribu perhari aja gigih memegang amanah lah ini yg digaji tak terhitung ditambah dengan fasilitas jetset malah pada memanfaatkan amanah dan jabatannya.... Naudzubillah summa naudzubillah...
·         10. Tama | 03.11.2010 15:08
Selamat jalan mbah...
semoga tenang dialam sana.
bersyukur ya mbah, semakin banyak komentar2 miring tentang mbah.. semakin juga dosa mbah berkurang krn diambil sama orang yg menghina mbah..
·         11. gunawan | 03.11.2010 11:38
selamat jalan mbah maridjan semoga engkau diterima disisinya.......dedikasimu terhadap pekerjaan semoga menjadi guru yang berharga bagi kami semua orang Jogja...(klo propinsi lain takutnya dosa)
 
 
Category: 0 komentar