Tampilkan postingan dengan label Pemimpin Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pemimpin Islam. Tampilkan semua postingan

Profil Pemimpin Islam


eramuslim - Setiap insan dalam kehidupan ini mempunyai fungsi sebagai pemimpin. Minimal kepemimpinan di rumah tangga atau diri pribadi. Seorang suami adalah pemimpin bagi istri sekaligus anak-anaknya, seorang presiden adalah pemimpin bagi rakyatnya dan begitu seterusnya, dalam setiap individu manusia yang akhirnya menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri.
Dewasa ini kepemimpinan cenderung dimanfaatkan untuk pemuasan hak pribadi yang ironisnya "Menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan"- Mengutamakan kepentingan pribadi diatas kepentingan orang banyak, melupakan "amanat kepemimpinan" yang diamanahkan atas dirinya- melanggar hak-hak konstitusi yang sudah disepakati bersama, juga kolusi untuk kepentingan kekuatan kepemimpinannya.
Ibnu Taimiyyah mengatakan dalam kitab Al siyaasah al syar'iyyah: bahwa karena kepemimpinan merupakan suatu amanat maka untuk meraihnya harus dengan cara yang benar, jujur dan baik. Dan tugas yang diamanatkan itu juga harus dilaksanakan dengan baik dan bijaksana. Karena itu pula dalam menunjuk seorang pemimpin bukanlah berdasarkan golongan dan kekerabatan semata tapi, lebih mengutamakan keahlian, profesionalisme dan keaktifan. Peka dalam menerima solusi-solusi yang membangun atau menerima kritik-kritik yang menuju kepada perbaikan.
Substansi kepemimpinan dalam kacamata Islam merupakan sebuah amanat yang harus diberikan kepada orang yang benar-benar "ahli", berkualitas dan memiliki tanggungjawab yang jelas dan benar serta adil, jujur dan bermoral baik. Inilah beberapa kriteria yang islam tawarkan dalam memilih seorang pemimpin yang sejatinya dapat membawa ummat kepada kehidupan yang lebih baik, harmonis, dinamis, makmur sejahtera dan tentram.
Disamping itu, pemimpin juga harus orang yang bertaqwa kepada Allah. Karena ketaqwaan ini sebagai acuan dalam melihat sosok pemimpin yang benar-benar akan menjalankan amanah. Bagaimana mungkin pemimpin yang tidak bertaqwa dapat melaksanakan kepemimpinannya? Karena dalam terminologinya, taqwa diartikan sebagai melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Taqwa berarti ta'at dan patuh -takut melanggar/mengingkari dari segala bentuk perintah Allah-. Memilih pemimpin bukan didasari oleh sikap pilih kasih, nepotisme atau kecendrungan primordial yang sempit. Atau memilih seorang pemimpin yang gila jabatan, ambisius dalam meraih kursi jabatan atau vested interested. Tapi hendaknya kepemimpinan diberikan kepada orang yang "ikhlas" dan dipercaya dalam mengemban amanah. Senantiasa memperioritaskan kemaslahatan ummat daripada kepentingan pribadi, kelompok atau keluarga.

Khalifah Abu bakar Assiddiq ra pernah berpidato saat dilantik menjadi pemimpin ummat sepeninggalan Rasulullah Saw yang mana inti dari isi pidato tersebut dapat dijadikan pandangan dalam memilih profil seorang pemimpin yang baik. Isi pidato tersebut diterjemahkan sebagai berikut:
"Saudara-saudara, Aku telah diangkat menjadi pemimpin bukanlah karena aku yang terbaik diantara kalian semuanya, untuk itu jika aku berbuat baik bantulah aku, dan jika aku berbuat salah luruskanlah aku. Sifat jujur itu adalah amanah, sedangkan kebohongan itu adalah pengkhianatan. 'Orang lemah' diantara kalian aku pandang kuat posisinya di sisiku dan aku akan melindungi hak-haknya. 'Orang kuat' diantara kalian aku pandang lemah posisinya di sisiku dan aku akan mengambil hak-hak mereka yang mereka peroleh dengan jalan yang jahat untuk aku kembalikan kepada yang berhak menerimanya. Janganlah diantara kalian meninggalkan jihad, sebab kaum yang meninggalkan jihad akan ditimpakan kehinaan oleh Allah Swt. Patuhlah kalian kepadaku selama aku mematuhi Allah dan Rasul-Nya. Jika aku durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya maka tidak ada kewajiban bagi kalian untuk mematuhiku. Kini marilah kita menunaikan sholat semoga Allah Swt melimpahkan Rahmat-Nya kepada kita semua".
Ada 7 poin yang dapat diambil dari inti pidato khalifah Abu Bakar ra ini, diantaranya:
1. Sifat rendah hati.
Pada hakikatnya kedudukan pemimpin itu tidak berbeda dengan kedudukan rakyatnya. Ia bukan orang yang harus terus di istimewakan. Ia hanya sekedar orang yang harus didahulukan selangkah dari yang lainnya karena ia mendapatkan kepercayaan dalam memimpin dan mengemban amanat. Ia seolah pelayan rakyat yang diatas pundaknya terletak tanggungjawab besar yang mesti dipertanggungjawabkan. Dan seperti seorang "partner" dalam batas-batas yang tertentu bukan seperti "tuan dengan hambanya". Kerendahan hati biasanya mencerminkan persahabatan dan kekeluargaan, sebaliknya ke-egoan mencerminkan sifat takabur dan ingin menang sendiri.
2. Sifat terbuka untuk dikritik.
Seorang pemimpin haruslah menanggapi aspirasi-aspirasi rakyat dan terbuka untuk menerima kritik-kritik sehat yang membangun dan konstruktif. Tidak seyogiayanya menganggap kritikan itu sebagai hujatan, orang yang mengkritik sebagai lawan yang akan menjatuhkannya lantas dengan kekuasaannya mendzalimi orang tersebut. Tetapi harus diperlakukan sebagai "mitra"dengan kebersamaan dalam rangka meluruskan dari kemungkinan buruk yang selama ini terjadi untuk membangun kepada perbaikan dan kemajuan. Dan ini merupakan suatu partisipasi sejati sebab sehebat manapun seorang pemimpin itu pastilah memerlukan partisipasi dari orang banyak dan mitranya. Disinilah perlunya social-support dan social-control. Prinsip-prinsip dukungan dan kontrol masyarakat ini bersumber dari norma-norma islam yang diterima secara utuh dari ajaran Nabi Muhammad Saw.
3. Sifat jujur dan memegang amanah.
Kejujuran yang dimiliki seorang pemimpin merupakan simpati rakyat terhadapnya yang dapat membuahkan kepercayaan dari seluruh amanat yang telah diamanahkan. Pemimpin yang konsisten dengan amanat rakyat menjadi kunci dari sebuah kemajuan dan perbaikan. Khalifah Umar bin Abdul Aziz pernah didatangi putranya saat dia berada dikantornya kemudian bercerita tentang keluarga dan masalah yang terjadi dirumah. Seketika itu Umar mematikan lampu ruangan dan si anak bertanya dari sebab apa sang ayah mematikan lampu sehingga hanya berbicara dalam ruangan yang gelap, dengan sederhana sang ayah menjawab bahwa lampu yang kita gunakan ini adalah amanah dari rakyat yang hanya dipergunakan untuk kepentingan pemerintahan bukan urusan keluarga.
4. Sifat berlaku adil.
Keadailan adalah konteks real yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin dengan tujuan demi kemakmuran rakyatnya. Keadilan bagi manusia tidak ada yang relatif. Islam meletakkan soal penegakan keadilan itu sebagai sikap yang esensial. Seorang pemimpin harus mampu menimbang dan memperlakukan sesuatu dengan seadil-adilnya bukan sebaliknya berpihak pada seorang saja-berat sebelah. Dan orang yang "lemah" harus dibela hak-haknya dan dilindungi sementara orang yang "kuat" dan bertindak zhalim harus dicegah dari bertindak sewenang-wenangnya.
5. Komitmen dalam perjuangan.
Sifat pantang menyerah dan konsisten pada konstitusi bersama bagi seorang pemimpin adalah penting. Teguh dan terus Istiqamah dalam menegakkan kebenaran dan keadilan. Pantang tergoda oleh rayuan dan semangat menjadi orang yang pertama di depan musuh-musuh yang hendak menghancurkan konstitusi yang telah di sepakati bersama.
6. Bersikap demokratis.
Demokrasi merupakan "alat" untuk membentuk masyarakat yang madani, dengan prinsip-prinsip segala sesuatunya dari rakyat untuk rakyat dan oleh rakyat. Dalam term ini pemimpin tidak sembarang memutuskan sebelum adanya musyawarah yang mufakat. Sebab dengan keterlibatan rakyat terhadap pemimpinnya dari sebuah kesepakatan bersama akan memberikan kepuasan, sehingga apapun yang akan terjadi baik buruknya bisa ditanggung bersama-sama. Ibaratnya seorang imam dalam sholat yang telah batal maka tidak diwajibkan baginya untuk meneruskan sholat tersebut, tetapi ia harus bergeser kesamping sehingga salah seorang makmum yang berada dibelakang imam yang harus menggantikannya.
7. Berbakti dan mengabdi kepada Allah
Dalam hidup ini segala sesuatunya takkan terlepas dari pandangan Allah, manusia bisa berusaha semampunya dan sehebat-hebatnya namun yang menentukannya adalah Allah. Hubungan seorang pemimpin dengan Tuhannya tak kalah pentingnya yaitu dengan berbakti dan mengabdi kepada Allah. Semua ini dalam rangka memohon pertolongan dan ridho Allah semata. Dengan senantiasa berbakti kepada-Nya terutama dalam menegakkan sholat lima waktu contohnya, seorang pemimpin akan mendapat hidayah untuk menghindari perbuatan-perbuatan yang keji dan tercela. Selanjutnya ia akan mampu mengawasi dirinya dari perbuatan-perbuatan hina tersebut, karena dengan sholat yang baik dan benar menurut tuntunan ajaran Islam dapat mencegah manusia dari perbuatan keji dan mungkar (lihat Q.S.Al Ankabuut :45 ). Sifat yang harus terus ia aktualisasikan adalah ridho menerima apa yang dicapainya. Syukur bila meraih suatu keberhasilan dan memacunya kembali untuk lebih maju lagi dan sabar serta tawakkal dalam menghadapi setiap tantangan dan rintangan, sabar dan tawakkal saat menghadapi kegagalan.
Dari rangkaian syarat-syarat pemimpin diatas sedikit dapat kita jadikan pandangan dalam memilih sosok pemimpin, dan masih banyak lagi ketentuan-ketentuan pemimpin yang baik dalam kacamata Islam yang bisa kita gali baik yang tersurat maupun tersirat di dalam Al Qur'an dan Hadist-hadist Nabi Saw.
Pemimpin ibarat seorang "supir" bus yang membawa penumpang-penumpangnya pada suatu tujuan dengan selamat dan memuaskan. Sebagai seorang supir pastilah harus menguasai dan ahli dalam menyupir serta segala "tetek-bengek" nya, baik itu teknisi atau perbengkelannya dan mematuhi aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh polisi pada rambu-rambu lalu-lintas. Kondektur bus tersebut adalah tim ahli yang juga dibutuhkan partisipasinya, yang membantu supir dalam mengontrol keadaan bus dan mendata jumlah penumpang serta menjaga barang-barang bawaan penumpang. Dalam hal ini kondektur diumpamakan dewan-dewan legislatif yang turut berpartisipasi selalu membantu program-program kerja pemimpin dalam membawa bangsa dan rakyatnya. Kaca spion, lampu, rem dan lainnya merupakan peralatan yang harus ada dan lengkap untuk menempuh perjalanan. Peralatan-peralatan seperti kaca spion, setir, klakson dan lainnya itu seperti perundang-undangan yang disepakati bersama dan layak untuk dipakai. Mana mungkin penumpang akan naik sebuah bus yang tak ada kaca spion, rem, lampu dan peralatan-peralatan lainnya? Peralatan-peralatan itu juga bisa di- "utak-atik" dengan selera masing-masing menurut mode dan selera yang sama-sama disepakati. Kalau bus dengan peralatan-peralatan yang telah disepakati bersama dapat menghantarkan penumpang ke tujuannya, mengapa tidak perundang-undangan yang disetujui bersama dapat menjadikan rakyat kepada tatanan kehidupan yang makmur dan sejahtera.
Supir yang sudah ahli dengan peralatan-peralatan yang lengkap belum menjadi jaminan untuk sampai ketujuan kecuali dengan do'a mengharap lindungan Allah. Tak lebihnya juga, seorang pemimpin dengan dewan-dewan legislatifnya serta rakyat belum menjamin kemakmuran dan kesejahteraan kecuali dengan ridho dan hidayah Allah. Disinilah pentingnya ketaqwaan itu, dengan kepatuhan dan ketaatannya kepada yang Maha Kuasa. Pemimpin hanya bisa mengusahakan selamat sampai tujuan, namun yang menentukannya tetaplah Allah. Selanjutnya, bentuk jalan yang berliku-liku berlubang dan tikungan atau mulus lurus dan tak putus-putus merupakan kodrat yang ada pada alam ini. Itulah ibaratnya sunnatullah yang telah Allah tentukan kepada makhluknya. Ada kanan pastilah ada kiri. Lurusnya jalan pastilah ada tikungan. Mulusnya jalan pastilah ada lubang-lubangnya. Inilah ketentuan-ketentuan Allah yang tidak mungkin kita lari dari-Nya.
Supir pun harus bisa bersikap equal menyikapi tuntutan para penumpang yang dianggap sehat dan baik. Tuntutan penumpang pastilah tidak jauh dari tuntutan keselamatan bersama. Begitu juga, seorang pemimpin haruslah seimbang dengan tuntutan-tuntutan rakyat yang tidak menyalahi konstitusi demi kemakmuran dan kesejahteraan bersama. Tuntutan rakyat biasanya lahir karena melihat adanya kepincangan dan kesewenang-wenangan yang dilakukan oleh pemimpin tersebut.
Begitulah sepatutnya yang diharapkan dari kehidupan ini pada diri seorang pemimpin dalam membawa ummat kepada kebahagiaan dan kesejahteraan bagi hidup dirinya dan rakyat yang dipimpinnya. Begitu pula, hendaknya dengan mengacu kepada ketentuan-ketentuan kepemimpinan menurut tuntunan ajaran islam seperti yang diuraikan di atas. Menjelang Pemilu 2004 nanti diharapkan pada pemimpin untuk komitmen pada konstitusi yang ada. Dan diharapkan juga ketelitian rakyat dalam memilih pemimpinnya sesuai tuntunan ajaran islam. Wallahu 'a'lam.
"Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, dan Kami telah mewahyukan kepada mereka untuk mengerjakan kebajikan, mendirikan sholat, menunaikan zakat, dan selalu menyembah (mengabdi) kepada Kami." (QS. Al-anbiya':73)
Mukhlis Zamzami
Mahasiswa Aligarh Muslim University, India.
mukhliszamzami@yahoo.com

Kehormatan, Jangan Dicari!


eramuslim - Ada sebuah kisah seorang panglima perang besar kaum muslimin Amru bin Ash yang begitu mulia hatinya. Saat fajar sebelum berangkat melakukan penyerbuan ke wilayah musuh yang menentang Islam, para pasukan terheran karena hanya tinggal tenda Sang Panglima yang masih utuh belum dikemas. Amru Bin Ash mendapati seekor burung betina bertengger diatas tendanya tengah mengerami telurnya. Karena itu, ia terpaksa menunda keberangkatan pasukannya. Kejadian tersebut sungguh mengherankan dua penyusup dari pasukan musuh yang menyamar dalam pasukan kaum mukminin. Padahal pendelegasian keduanya menyusup itu karena sebelumnya para pembesar dan masyarakat yang akan diserang mendengar berita tentang kekejaman Panglima Amru bin Ash beserta pasukannya. Pasukan mukmin tak jadi menyerang wilayah yang direncanakan tersebut, karena dua penyusup tadi telah mengkhabarkan kepada penguasa dan masyarakat tentang kemuliaan dan sifat kasih kaum mukminin. Mereka pun menerima kedatangan Amru bin Ash dan pasukannya dengan tangan terbuka.
Satu kisah menarik tentang kemuliaan Islam dan kaum mukminin yang sepatutnya direnungkan oleh ummat Islam saat ini. Betapa keterpurukan atau kejayaan Islam, bergantung pada ummat Islam itu sendiri. Anda tak perlu memalingkan muka ketika seorang turis ‘iseng’ bertanya kepada Anda, “Kereta api ini kotor sekali? Bukankah sebagian besar penumpang kereta ini adalah muslim?” Tidak hanya kereta api atau angkutan umum lainnya yang tak terjaga kebersihannya, tapi juga semua sarana umum seperti jembatan penyeberangan, halte, telepon umum, dan (bahkan) rumah sakit. Telepon umum misalnya, selain tidak bersih dan penuh coretan, sebagian besar sudah tidak berfungsi dirusak oleh tangan-tangan tak bertanggungjawab. Memang belum tentu ‘orang muslim’ yang melakukannya, tapi juga tidak bisa disalahkan jika orang menganggap demikian karena kenyataannya, ummat Islam memang penghuni terbesar di jagad Indonesia ini.
Fenomena-fenomena aneh kadang membuat kita harus berpikir kenapa sampai terjadi. Bukan sekedar soal Inul yang didukung habis-habisan oleh banyak pihak dan ketidakberdayaan Rhoma Irama dan para ulama menentang goyang ngebor penyanyi asal Pasuruan itu. Masalah Inul ini, jadi cerminan bagi ummat Islam bahwa seolah kita sama sekali tak memiliki harga diri dan kekuatan untuk menentang bentuk-bentuk ketidakbenaran. Betapa tidak, karena dalam lingkungan internal ummat Islam itu sendiri, kita tak bisa banyak berbuat dan mencari solusi. Misalnya saja, kenapa bisa terjadi seorang jama’ah kehilangan sandal di Masjid? Orang bisa saja mengatakan bahwa pencurinya pasti bukanlah salah seorang jama’ah masjid itu sendiri karena salah satu tujuan orang melakukan sholat adalah menjauhkan diri dari perbuatan keji dan munkar. Tetapi ketika orang tak lagi takut untuk mencuri di suatu tempat suci seperti masjid, adalah hal memprihatinkan, bahwa suatu saat, orang akan bisa berbuat semaunya di (dalam) masjid. Meski tidak harus disamakan, ini seperti perumpamaan orang yang berani mencuri di kantor polisi, sungguh ironi.
Para Pelajar di sekolah yang menyontek saat ujian mata pelajaran agama, mungkin bisa jadi contoh lain betapa nilai-nilai agama tidak sepenuhnya menjadi baju yang senantiasa melekat dari diri, sehingga sebagian masyarakat kita belum benar-benar menghargai agamanya (dan ajaran-ajaran didalamnya) sendiri. Jadi bukan tidak mungkin, di negara yang mayoritas ummat beragama Islam ini, -berkaca pada kasus Inul- kebenaran akan teramat mudah diberangus oleh kebatilan. Bahwa juga, mereka yang mencoba berusaha menegakkan kebenaran akan menanggung resiko menjadi pesakitan, mendapat teror dari berbagai pihak dan akhirnya harus mengaku menyerah kalah. Yang menyedihkan, hampir sebagian besar pendukung ketidakbenaran itu adalah mereka yang mengaku masih beragama Islam, ironi bukan?
Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika sebagai muslim Anda akan risih dan merasa malu (seolah Islam tidak memiliki harga diri) menyaksikan hampir di setiap kendaraan umum orang-orang berpeci dan berjilbab lusuh menyodorkan amplop atau tromol pembangunan masjid atau yayasan yatim piatu tertentu. Pertanyaannya, apakah lembaga Badan Zakat Infaq Shodaqoh (BAZIS) yang dibentuk pemerintah sudah tidak lagi dipercayai memegang amanah mengumpulkan infaq atau memang masyarakatnya sendiri yang mulai berat untuk sekedar mengulurkan tangan sehingga harus ada yang menjemput infaq mereka dengan tromol dan amplop? Padahal praktek semacam ini pun, bukan rahasia lagi sangat mungkin dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang ingin mencari kekayaan dari sisa-sisa kebaikan masyarakat kita.
Rasulullah Saw tidak pernah mengajarkan kita untuk mencari-cari kehormatan, atau memaksa orang lain untuk memberikan penghormatannya. Karena yang beliau contohkan adalah, menghargai dan menghormati diri sendiri, maka dengan sendirinya, orang lain, ummat lain akan menghargai dan menghormati kita dengan utuh. Hal demikian dibuktikan langsung oleh beliau dalam kisah pemindahan Hajar Aswad. Semua pembesar kaum Quraisy dari berbagai kabilah pada saat itu merasa paling berhak mendapatkan kehormatan memindahkan Hajar Aswad ke tempat semula, sehingga sempat terjadi perselisihan. Namun akhrnya, disepakati bahwa yang datang paling pagi keesokan hari di tempat tersebutlah yang berhak dan mendapatkan kehormatan tersebut. Keesokan paginya, ternyata semua orang mendapati pemuda Muhammad tiba lebih awal di tempat tersebut dan berhak memindahkan Hajar Aswad. Namun bukan Muhammad jika tak bersikap bijaksana, dia ulurkan sorbannya dan meletakkan Hajar Aswad diatasnya, lalu Muhammad meminta empat pemimpin kabilah saat itu memegang masing-masing ujung sorban. Akhirnya, semua pembesar kabilah kaum Quraisy itu merasa puas dan senang karena mendapatkan kehormatan yang sama.
Kisah tersebut, tentu memberikan hikmah penting bagi kita ummat Rasulullah, bahwa kehormatan bukan dicari seperti halnya orang yang menunaikan ibadah haji karena hendak mendapat gelar haji dan dipanggil “Pak Haji”. Tetapi nilai-nilai seperti kesabaran dan pengorbanan yang didapat dari ibadah haji-lah yang mestinya tersemat dalam diri seorang muslim, sehingga orang akan menghormatinya bukan sebagai “Pak Haji” melainkan sebagai orang yang didalam dirinya terpatri nilai ibadah haji. Contoh ini juga berlaku dalam hal apapun di masyarakat kita, hanya dengan menghargai dan menghormati ajaran-ajaran agama sendiri, orang lain akan menghormati kita tanpa diminta. Wallaahu ‘a’alam bishshowaab (Bayu Gautama)

Jejak Indah Sang Pemimpin


eramuslim - Malam telah pekat, selimut-selimut semakin dirapatkan para pemiliknya untuk menambah lelap. Angin sahara menderu akrab ditelinga, dingin menusuk, kesunyian hadir sejak tadi. Dia mengendap-endap keluar dari petak rumah sederhana, menyusuri setiap lorong perkampungan Madinah. Jubah kumal bertambalan itu menemaninya pergi. Ditajamkannya pendengaran, adakah rakyatnya menyelami derita yang luput dari perhatian. Diawaskannya mata, terdapatkah rakyat alami duka akibat kepemimpinannya. Jika dia berlalu dan mendengar dengkuran halus pemilik rumah, senyuman menemaninya berpatroli.
Sendirian, dia memamah malam, langkahnya berjinjit khawatir mengganggu istirahat rakyat yang begitu dicintai. Dari setiap detik yang mengalir, selalu kecemasan yang membayang di wajah pemberaninya, jangan-jangan di rumah ini ada janda dengan anak-anak yang kelaparan, atau khawatir di rumah selanjutnya orang tua terkapar kesakitan tanpa sanak saudara, adakah di rumah itu yang sakit hati karena pajak terlalu tinggi. Sendirian dia menikmati paruh malam, menyulam harapan keadaan rakyat sentosa senantiasa, merajut do'a agar rakyat dibawah naungan perlindungannya dilingkupi pilinan kedamaian.
Langkahnya terhenti, ketika beberapa wanita terdengar bersenandung, dari bilik sebuah rumah:
Adakah jalan untuk minuman memabukkan,
Dan aku akan meminumnya
Atau adakah jalan,
Kepada Nashr bin Hajjaj?
Saat itu, dia berdiam lama, menghafal sebuah nama asing dalam hatinya, Nashr bin Hajjaj. Selanjutnya patrolinya dilanjutkan, hingga waktu fajar sebentar lagi menjemput.
Pagi harinya, dia mencari tahu nama yang didapatinya tadi malam. Salah seorang pembantunya menghadapkan seorang laki-laki dari suku Sulaym, Nashr bin Hajjaj. Berdiri tegap sang pemuda. Dia memandangnya lekat. Pemuda yang menakjubkan, ketampanannya mempesona, rambutnya indah. Dia mengingat syair wanita semalam. Akhirnya sang pemuda diperintahkan untuk memotong rambut, ketika kembali, Nashr tampak lebih tampan, dia pun menyuruhnya mengenakan ikat kepala, kali ini pun Nashr terlihat lebih mempesona. Khawatir menimbulkan banyak fitnah dan kemudharatan di tempat berdiamnya selama ini, Dia pun mengamanahkan Nashr tugas mulia, menjadi anggota pasukan tentara dengan jaminan kehidupan yang lebih baik. Wajah Sang pemuda pun berbunga.
Siapakah dia, yang sangat khawatir terjadi kerusakan akhlak para wanita hingga memikirkan solusi terbaik dengan memindahkan Nashr? Tebak, siapa pemimpin yang begitu tulus mencintai rakyatnya dengan berjalan dari satu lorong ke lorong yang lain untuk mencari tahu adakah rakyatnya yang tidak dapat tidur nyenyak? Ya, saya sepakat denganmu sahabat, Dia adalah Umar Bin Khattab, khalifah kedua bergelar amirul mu'minin, pemimpin bagi orang-orang mu'min. Begitu Mahsyur.
Suatu periode dalam kepemimpinan Umar, terjadilah Tahun Abu. Masyarakat Arab, mengalami masa paceklik yang berat. Hujan tidak lagi turun. Pepohonan mengering, tidak terhitung hewan yang mati mengenaskan. Tanah tempat berpijak hampir menghitam seperti abu.
Putus asa mendera dimana-mana. Saat itu, Umar sang pemimpin menampilkan kepribadian yang sebenar-benar pemimpin. Keadaan rakyat diperhatikannya seksama. Tanggung jawabnya dijalankan sepenuh hati. Setiap hari diinstruksikan menyembelih onta-onta potong dan disebarkan pengumuman kepada seluruh rakyat. Berbondong-bondong ribuan rakyat datang untuk makan. Semakin pedih hatinya. Saat itu, kecemasan menjadi kian tebal. Dengan hati gentar, lidah kelunya berujar, "Ya Allah, jangan sampai umat Muhammad menemui kehancuran ditangan ini".
Sejarah menorehkan kisah Umar yang mengharamkan daging, samin dan susu untuk perutnya, khawatir makanan untuk rakyatnya berkurang. Ia, si pemberani itu hanya menyantap minyak zaitun dengan sedikit roti. Akibatnya, perutnya terasa panas dan kepada pembantunya ia berkata "Kurangilah panas minyak itu dengan api". Minyak pun dimasak, namun perutnya kian bertambah panas dan berbunyi nyaring. Jika sudah demikian, ditabuh perutnya dengan jemari seraya berkata, "Berkeronconglah sesukamu, dan kau akan tetap menjumpai minyak, hingga rakyatku bisa kenyang dan hidup dengan wajar".
Tahun abu pun berlalu. Daerah kekuasaan Islam bertambah luas, pendapatan negara semakin besar. Masyarakat semakin makmur. Apakah umar berhenti berpatroli? Masih dengan jubah kumal, umar didampingi pembantunya berkeliling merambahi rumah-rumah berpelita. Kehidupan keluarga umar, masih saja pas-pasan. Padahal para gubernur di beberapa daerah hidup dalam kemewahan. Para sahabat, mulai berkasak-kusuk, mereka mengusulkan untuk memberi tunjangan dan kenaikan gaji yang besar untuk Umar. Namun, para sahabat tidak berani menyampaikan usul ini langsung kepada umar. Lewat Hafsah putri Umar, yang juga janda Rasulullah, usul ini disampaikan. Sebelumnya mereka berpesan supaya tidak disebut nama-nama mereka yang mengusulkan.
"Siapa mereka yang mempunyai pikiran beracun itu, akan ku datangi mereka satu persatu dan menamparnya dengan tanganku ini," berangnya kepada Hafsah. Selanjutnya tatapannya meredup, dipandanginya putri kesayangan itu, "Anakku, makanan apa yang menjadi santapan suamimu, Rasulullah?" Hafsah terdiam, pandangannya terpekur di lantai tanah. Ingatan hidup indah bersama sang purnama Madinah, tergambar. Terbata Hafsah menjawab, "Roti tawar yang keras, ayah. Roti yang harus terlebih dahulu dicelup ke dalam air, agar mudah ditelan".
"Hafsah, pakaian apa yang paling mewah dari suamimu," seraknya masih dengan nada kecewa. Hafsah semakin menunduk, pelupuk mata sudah tergenang. Terbayanglah tegap manusia sempurna, yang selalu berlaku baik kepada para istrinya. "Selembar jubah kemerahan, ayah, karena warnanya memudar. Itulah yang dibangga-banggakan untuk menerima tamu kehormatan". Pada saat menjawab, kerongkongan Hafsah tersekat, menahan kesedihan.
"Apakah, Rasulullah membaringkan tubuh diatas tilam yang empuk?" pertanyaan ini langsung dipotong Hafsah "Tidakk!" pekiknya. "Beliau berbantal pelepah keras kurma, beralaskan selimut tua. Jika musim panas datang, selimut itu dilipatnya menjadi empat, supaya lebih nyaman ditiduri. Lalu kala musim dingin menjelang, dilipatnya menjadi dua, satu untuk alas dan bagian lainnya untuk penutup. Sebagian tubuh beliau selalu berada diatas tanah". Saat itu meledaklah tangis Hafsah.
Mendengar jawaban itu, Umar pun berkata, "Anakku! Aku, Abu Bakar dan Rasulullah adalah tiga musafir yang menuju cita-cita yang sama. Mengapakah jalan yang harus kutempuh berbeda? Musafir pertama dan kedua telah tiba dengan jalan yang seperti ini." Selanjutnya Umar pun menambahkan "Rasulullah pernah berkata: Kita adalah kaum yang menangguhkan kesenangan untuk hari akhir. Perumpamaan hubunganku dengan dunia seperti orang yang berpergian pada musim panas. Ia berlindung sejenak dibawah pohon, kemudian berangkat meninggalkannya".
Pada saat kematian menjelang lewat tikaman pisau Abu Lu'Lu'a, budak Mughira bin Syu'bah, ringan ia bertutur, "Alhamdulillah, bahwa aku tidak dibunuh oleh seorang muslim". Mata yang jarang terlelap karena mengutamakan rakyatnya itu menutup untuk selama-lamanya. Umar pun syahid, dalam usia 60 tahun. Innalillahi Wa Inna Ilaihi Raajiiun.
Madinah berduka, sebuah syair menghantarkan kepergiannya:
Allah membalas kebaikan kepada Imam
Memberi berkah ke kulit bumi yang terkoyak
Kau raih kemilau sejarah gemilang
Kau tinggalkan retak-retak belum selesai
Siapa terbang di sayap burung unta
Akan terkejar apa yang sudah berlalu sebelumnya?
Setelah pembunuhan di Madinah
Dunia pun gelap
Pohon-pohon tersentak bergetar,
Dan tidak kuharapkan
Kematiannya dikuku singa
Bermata biru, kepala merunduk

(Muzarrad bin Dzirar)
Pemilu, tinggal menunggu hitungan bulan, sungguh saya merindukan sosok pemimpin yang meneladani Umar dalam mengayomi rakyatnya.

Lihat Diri Sebelum Berbicara


eramuslim - Undzur ma qoola walaa tandzur man qoola –Dengar apa yang dikatakannya dan jangan lihat siapa yang mengatakannya- satu ungkapan lama dari ulama yang sejatinya dimaknai agar kita bersikap kritis terhadap setiap perkataan orang, disisi lain tidak mengambil kebenaran hanya karena memandang kedudukan, status orang yang mengatakannya. Namun, sejalan dengan beragam pemikiran manusia, beragam pula interpretasi terhadap ungkapan tersebut hingga satu titik interpretasi sederhana bahwa tidak perlu melihat siapa yang mengatakannya, karena yang penting adalah apa yang dikatakan orang tersebut. Satu interpretasi yang salah yang terus bergulir yang kemudian tidak jarang dijadikan alasan pembenaran bagi seorang juru dakwah (da’i) untuk tidak tampil dengan penampilan terbaiknya, karena baginya yang penting apa yang akan disampaikannya penuh nilai dan berbobot.
Anda tentu pernah melihat tukang-tukang obat yang beraksi di tengah keramaian, meski tak pernah belajar teori komunikasi –apalagi kuliah strata satu di fakultas ilmu komunikasi- tapi memiliki kemampuan untuk menyedot perhatian orang banyak hingga rela berdiri untuk sekian lama memperhatikan cuap-cuap si tukang obat. Jual obat belakangan, yang penting orang senang dulu dan betah untuk berlama-lama bersamanya. Bisa jadi kita juga semua tahu bahwa obat yang dijual masih perlu dipertanyakan kualitasnya, juga kemanjurannya, tapi pernahkah Anda mempertanyakan pada diri sendiri, kenapa Anda mau berhenti sejenak untuk memperhatikan tukang obat itu sendiri. Dan tidak jarang, pada akhirnya, ada yang membeli obat tersebut.
Setiap marketing yang handal dan pengalaman, tentu sangat mengerti jawabannya. Prinsip dasar yang dipegang selama ini dalam menentukan keberhasilan marketing adalah “The singer not the song”. Pada umumnya, keputusan untuk membeli suatu barang sangat ditentukan oleh emosi si pembeli. Termasuk misalnya, pembeli merasa senang, suka ataupun sebaliknya terhadap penjual. Setiap penjual yang baik, biasanya memulai dengan dan mampu untuk “menjual” dirinya terlebih dulu sebelum menjual produk. Syukurnya, dalam kerangkan budaya masyarakat Indonesia pada umumnya masih lebih berorientasi pada “siapa yang berbicara”. Sebagai contoh lagu dan penyanyi misalnya, orang kita masih memandang penyanyinya, bukan lagunya. Coba Anda perhatikan di kampung-kampung misalnya, tertulis besar-besar pengumuman, “Hadirilah pagelaran musik, menghadirkan Cucum Cumenah, Artis Top Ibukota”. Anda tidak akan pernah mendapati, judul lagu yang ditulis dalam pengumuman tersebut. Apapun lagunya, kalau yang membawakannya adalah artis top yang sudah kondang dan kesohor bahkan menjadi pujaan, tidak penting lagi apakah lagu tersebut jelek atau bagus.
Jadi, sekedar untuk mengembalikan pemahaman sebenarnya dari ungkapan ulama (bukan hadits) diatas, bahwa setiap kita semestinya kritis terhadap apa yang dikatakan orang. Namun jika masih tetap ada yang “keukeuh” menginterpretasikan hal itu sebagai tidak perlu melihat siapa yang mengatakannya, kali ini, seharusnya dipahami bahwa sesungguhnya masyarakat kita sangat betul memperhatikan siapa yang berbicara. Sebagus apapun, sebaik apapun nasihat yang akan anda sampaikan kepada orang lain, luangkan waktu sejenak untuk sekedar memperhatikan penampilan Anda, dan memperbaiki bagian yang kurang sedap dipandang. Dalam pemahaman yang lebih luas, seperti dijelaskan dalam Surat Ash Shaft ayat 2 dan 3, bahwa sebelum mengatakan sesuatu, semestinya kita sudah melakukannya. Sehingga orang lain akan melihat kita sebagai tauladan, bukan sebagai pembual yang hanya pandai mengajak orang, tapi ianya tetap pada keburukan. Wallahu ‘a’lam bishshowaab (Bayu Gautama).

Belajar Bersyukur


eramuslim - Seorang Ibu terlihat gusar, setelah melihat tumpukan piring kotor di dapurnya. Semua itu bekas makan siang beberapa orang tamu yang baru saja berkunjung. Bukan karena banyaknya cucian piring, tetapi masih terlihatnya potongan-potongan daging bersisa, belum lagi sisa nasi yang masih menumpuk di piringnya. Ah… padahal untuk menyediakan lauk pauk itu tentu si ibu mesti mengeluarkan uang yang tidak sedikit. Semua itu demi menjamu tamunya. Kalau saja para tamu itu hanya memakan daging dan mengambil nasi secukupnya saja, tentu tidak akan ada makanan bersisa di piring kotor. Dan anak-anaknya bisa ikut menikmati sebagian daging utuh lainnya. Melihat sisa potongan daging itu, si Ibu bingung, mau di buang ... sayang... mau di olah lagi… sudah kotor bercampur sisa makanan lain…. tapi Alhamdulillah tetangga sebelah punya kucing… mungkin ini rezeki si kucing.
***
“Jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nahl:18).
Begitu banyak nikmat yang diberikan oleh Allah kepada kita. Nikmat iman, nikmat sehat, nikmat penghidupan (harta, ilmu, anak, waktu luang, ketentraman, dan lain-lain) serta nikmat-nikmat lain yang tak terkira. Namun dengan sekian banyak nikmat yang Allah berikan seringkali kita lupa dan menjadikan kita makhluk yang sedikit sekali bersyukur, bahkan tidak bersyukur, Na'udzubillahi min dzalik…
Seringkali kita baru menyadari suatu nikmat bila nikmat itu di ambil atau hilang dari siklus hidup kita. Ketika sakit, baru kita ingat semasa sehat, bila kita kekurangan baru kita ingat masa-masa hidup cukup.
Syukur diartikan dengan memberikan pujian kepada yang memberi kenikmatan dengan sesuatu yang telah diberikan kepada kita, berupa perbuatan ma’ruf dalam pengertian tunduk dan berserah diri pada-Nya. Cobalah kita memikirkan setiap langkah yang kita lakukan. Bila makan tak berlebihan dan bersisa. Bayangkan, di tempat lain begitu banyak orang yang kesulitan dan bekerja keras demi untuk mencari sesuap nasi. Bahkan banyak saudara-saudara kita yang kurang beruntung, mencari makan dari tong-tong sampah. Lantas sedemikian teganyakah kita menyia-nyiakan rezeki makanan yang didapat dengan berbuat mubazir. Ketika punya waktu luang malah dipergunakan untuk beraktivitas yang tidak bermanfaat bahkan cenderung merugikan orang lain. Kala tubuh sehat, malah lebih banyak dipakai dengan melangkahkan kaki ke tempat tak berguna. Tidak terbayangkah bila nikmat itu hilang dengan datangnya penyakit atau musibah lainnya. Ah... alangkah ruginya… karena semuanya menjadi percuma disebabkan tidak bersyukurnya kita atas nikmat. Bahkan karena sikap-sikap tadi yang didapat hanyalah dosa dan murka-Nya. Na'udzubillah….
Kita harus berusaha mengaktualisasikan rasa syukur kita dari hal-hal yang sederhana. Setiap aktifitas sekecil apapun usahakan untuk selalu sesuai aturan-Nya, selaku pencipta kita. Kerusakan yang sekarang timbul di sekeliling kita tidak lain karena sikap kufur nikmat sebagian dari kita. Bayangkan, negara yang kaya akan sumber daya alam, tetapi sebagian besar rakyatnya miskin.
Untuk itu, tidak ada salahya bila kita mulai dari diri dan keluarga, belajar bersyukur atas nikmat yang Allah berikan. Agar nikmat itu jangan sampai menjadi naqmah (balasan siksa), karena kufur akan nikmat-Nya. Mulailah untuk sering melihat kondisi orang-orang yang berada di bawah kita. Jika sudah, tentulah kita akan lebih banyak mengatakan “Alhamdulillah”. Seperti dalam hadits Rasulullah Saw, ”Perhatikanlah orang yang berada di bawah tingkatanmu (dalam urusan duniawi), dan jangalah kamu memandang kepada orang yang berada di atasmu. Itu lebih layak bagimu supaya kamu tidak menghina pemberian Allah kepadamu.” (HR.Muslim).
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kehilangan nikmat (yang telah Engkau berikan), dari siksa-Mu yang mendadak, dari menurunkannya kesehatan (yang engkau anugrahkan) dan dari setiap kemurkaan-Mu.” (HR. Muslim dari Ibnu Umar). (Ervin Hidayati/ummu_fatih@yahoo.com)

Pemimpin Itu Bernama: Hati!

eramuslim - Jiwa adalah hati. Ia laksana matahari yang menerangi sekaligus merupakan hakikat kita yang terdalam. Sebab, jasad adalah permulaan dan ia akan rusak, sedangkan jiwa adalah akhir dan ialah yang pertama dan disebut hati (jantung). Tapi jantung yang dimaksud bukanlah sepotong daging yang ada di rongga dada sebelah kiri itu. Sebab, kalau itu, pada binatang dan mayat pun ada.
Saudaraku, segala sesuatu yang dapat kita lihat melalui mata lahir adalah termasuk alam. Alam yang dimaksud adalah alam syahadah (dunia yang bisa dilihat), sedangkan hakikat hati bukanlah dari alam syahadah ini, tapi dari alam ghaib. Di dunia ini dia asing dan "potongan daging" itu adalah sekedar kendaraannya. Adapun semua anggota badan merupakan bala-tentara atau prajurit-prajutitnya.
Dialah (hati) sang raja. Ma'rifatullah (pengenalan terhadap Allah) dan musyahadah (menyaksikan) keelokan hadhirat Ilahi merupakan ciri-cirinya. Taklif (beban keagamaan) dan khitab (firman), kepadanyalah ditujukan. Ialah yang mendapat hukuman dan pahala, kebahagiaan dan kesengsaraan.
Saudaraku, jika hati ini adalah pemimpin dari semua yang ada pada diri manusia. Maka kenalilah seluruh pasukan (prajurit) hati yang kerap mengiringi kemanapun hati berkehendak ini. Karena (dengan mengenali pasukan hati) itu adalah landasan utama mujahadah, sebab orang yang tidak mengenal pasukannya, tentu perjuangannya tidak sah.
Saudaraku, kita perlu mengenal dua macam pasukan hati. Pertama, pasukan lahir, yang berupa nafsu dan angkara murka, dimana tempatnya pada kedua tangan, kedua kaki, kedua mata, kedua telinga, mulut dan segenap anggota badan. Sedangkan pasukan yang kedua adalah pasukan bathin, tempatnya dibenak, berupa kekuatan khayali (imajinasi), daya pikir, daya ingat, daya hafal dan angan-angan.
Masing-masing kekuatan, dari kekuatan-kekuatan ini mempunyai fungsi tertentu. Bila salah satu dari kekuatan-kekuatan itu lemah, maka lemah pula keadaan manusia di dunia maupun di akhirat.
Dan saudaraku, hati lah yang menjadi komandan kedua pasukan itu. Bila ia memerintahkan lisan untuk berdzikir, maka lisanpun berdzikir, bila ia memerintahkan tangan untuk memukul, tangan pun memukul, dan bila ia memerintahkan kaki untuk melangkah, maka kaki pun melangkah. Demikian pula dengan panca indera. Dengan demikian, manusia dapat menjaga dirinya sendiri agar dapat menyimpan perbekalan bagi kehidupannya di akhirat.
Saudaraku, seluruh pasukan itu hakikatnya tunduk patuh kepada hati sebagaimana para malaikat tunduk patuh kepada Allah swt, tidak pernah menyalahi perintah-Nya. Maka saudaraku, jika kita telah benar-benar merawat dan menjaga selalu kebersihan hati ini, tentu ia akan gundah tatkala salah satu pasukannya berbuat ingkar. Resah pun menggelayut saat pasukan yang lain menyalahi perintahnya.
Saudaraku, hati akan merasa sakit begitu pasukan-pasukan hatinya, berdusta, menyimpang dari ketentuan Ilah, berbuat maksiat atau bahkan mengingkari hakikat kebenaran dan kepatuhan yang dicontohkan Malaikat dalam diri kita. Namun jika kita terus membiarkan keadaan ini berlangsung, tentu hati sang pemimpin ini tidak hanya akan sakit bahkan mati. Jika ia telah mati, maka nafsu dan angkara murka lah yang menguasai keseluruhan jasad dan raga manusia.
Oleh karena itu saudaraku, jangan biarkan pasukan-pasukan hati ini menyakiti pemimpin mereka. Bahkan, cegahlah mereka dari upaya membunuh hati ini dengan terus tanpa henti menyabut nama sang pencipta dan pemelihara hati. Dzikrullah, adalah salah satu pengobat dan pelindung hati dari angkara murka, nafsu dan amarah. Wallahu a'lam bishshowaab (Bayu Gautama, sumber: Manajemen Hati: Al Ghazali)