Atasi Problem Ummat Dengan Akhlak


eramuslim - Manusia yang terbaik adalah manusia yang bernilai manfaat bagi manusia lainnya. Penampilan manusia terbaik ini telah ditujukkan oleh para generasi awal sahabat (assabiqunal awwalun). Sehingga perjalanan dakwah Rasulullah Saw betul-betul ditopang oleh pondasi yang kokoh dari para sahabat.
Di dalam sejarah tersebutlah nama-nama seperti: Abu Bakar Shiddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Bilal bin Rabah, dan masih banyak lagi. Mereka sangat disegani lawan maupun kawan, dipuji makhluk baik yang ada di langit (malaikat) maupun di muka bumi. Oleh karenanya, bagi kita yang hidup hari ini sangat bagus untuk mampu mengambil hikmah dari apa yang telah diperbuat Rasullah Saw dan para sahabatnya. Abu Bakar misalnya, adalah orang yang pertama mempercayai Rasulullah Saw melakukan perjalanan Isra’ dan mi’raj. Sehingga terkenallah ia dengan julukan as-shiddiq (benar). Disamping itu, Abu Bakar adalah termasuk sahabat yang rela mengorbankan hartanya 100 persen untuk Islam. “Cukuplah Allah dan Rasul-Nya”, kata Abu Bakar.
Akhlak mulia yang ditunjukkan oleh para sahabat itu dapat muncul karena mereka mempunyai kekuatan aqidah yang kokoh, kuat, tahan banting. Kekuatan aqidah yang bersumber dari pemahaman yang jelas, jernih dan baik terhadap syahadatain. Sehingga setiap gerak langkah yang dilakukannya itu betul-betul diperuntukkan demi tegaknya kalimat Allah, Laa Ilaha Illallah.
Jika saja setiap umat Islam yang ada di bumi nusantara ini berakhlak seperti Rasulullah dan para sahabatnya, insya Allah kalimatullah akan tegak. Problem kemiskinan yang terus mendera bangsa ini juga bakal bisa di atasi. Kenapa, karena setiap orang akan berusaha dan berlomba-lomba untuk menunjukkan akhlak mulianya. Setiap detik waktunya tidak akan terbuang sia-sia. Namun, akan digunakan untuk meraih amalan terbaik sehingga sahamnya diakhirat menjadi besar. Hanya dengan amalan terbaiklah kita akan bertemu dengan Allah Swt.
Mengenai hal ini, Abu Darda ra, ia berkata, “Nabi Saw bersabda: “Carilah Aku (Allah) pada golongan orang-orang lemah karena sesungguhnya kamu diberi rizki dan pertolongan melalui golongan orang-orang lemah itu.” (HR. Ahmad, Abu Daud, Bukhari, Ibnu Hibban, dan hakim). Dengan membantu orang-orang lemah sebagaimana telah dicontohkan Rasulullah Saw dan para sahabatnya tentu nilai amalan akan meningkat.
Dalam konteks era sekarang ini, banyak cara yang bisa diterapkan dalam membantu orang-orang lemah. Yang penting adalah bantuan itu diniatkan semata-mata karena Allah bukan karena ada faktor yang lain. Jangan sampai ada udang dibalik batu. Apalagi godaan jabatan di pentas politik yang selalu menggoda. Berikanlah bantuan kepada orang-orang lemah dengan semata-mata ikhlas karena-Nya.
Dari sisi ekonomi, cara memberdayakan golongan lemah dapat ditempuh dengan berbagai macam jalan, antara lain. Pertama, merekrut mereka menjadi tenaga kerja pada usaha yang sedang dijalankan sendiri. Kedua, memberikan bantuan modal untuk usaha yang produktif. Modal usaha dapat berupa modal investasi dan modal kerja. Modal investasi berupa alat-alat atau perlengkapan yang akan digunakan dalam jangka panjang sebagai penunjang usaha. Sedangkan modal kerja adalah dana yang akan digunakan untuk keperluan rutin (operasional usaha). Ketiga, memberikan beastudi (beasiswa) kepada salah satu anggota keluarganya (anak). Dengan harapan akan dapat berkarya produktif setelah pendidikannya selesai. Keempat, memberikan bekal keterampilan melalui training (pelatihan). Melalui pelatihan diharapkan mereka menjadi paham dan mampu untuk bekerja secara mandiri.
Dengan keempat perbekalan di atas diharapkan golongan lemah menjadi bangkit dan kuat. Kebangkitan dan kekuatan mereka akan berkelanjutan bila ditopang dan dilandasi oleh aqidah (keyakinan) yang kuat, bahwa semua yang telah dan akan terjadi itu semata-mata kehendak Allah Swt. Tugas kita adalah berusaha semaksimal potensi yang telah diberikan-Nya. Sebagaimana telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw dan para sahabat, yang tidak putus asa di dalam berjuang, berusaha dan menegakkan kalimatullah, Laa Ilaha Illallah. (Efri S Bahri/efrisb@yahoo.com)
Category: 0 komentar

0 komentar:

Posting Komentar