Tampilkan postingan dengan label oase iman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label oase iman. Tampilkan semua postingan

Pertolongan Allah Sangat Dekat


eramuslim - Setiap jiwa pasti tergantung pada pertolongan Allah. Betapapun usaha yang dilakukan, bila Allah tidak mengizinkannya, maka usaha yang dilakukan itu hanya akan sia-sia. Mungkin kita pernah berfikir, kita telah berusaha keras, bekerja giat, senantiasa memohon pertolongan Allah dalam setiap sholat dan do'a-do'a yang kita lantunkan, namun nasib kita tetap seperti itu-itu saja, bahkan kita senantiasa terpuruk, usaha kita tidak berarti apa-apa, bahkan kita senantiasa terhina.
Dunia Islam menangis, meratapi kekerdilan jiwa kita, menyaksikan keangkuhan diri ini. Kenapa kita senantiasa menyalahkan Allah yang tak kunjung memberikan pertolongan, padahal kita tidak pernah berpegang pada petunjuk-Nya. Kenapa kita selalu bertanya kapan pertolongan itu tiba, sedangkan kita tidak bersatu dan bersimpul pada tali Islam. Kita selalu menuntut agar di dunia ini keinginan kita dipenuhi oleh Allah, tapi sedikitpun kita tidak pernah menunaikan kewajiban-kewajiban kita sebagai hamba kepada-Nya.
Kita senantiasa meratapi nasib sebagai orang yang selalu miskin, gagal dalam berbisnis dan kuliah, karier mandek, prestasi anjlok. Namun pernahkah kita berfikir kalau iman kita tandus, hati kita gersang, pernahkah kita minta tolong kepada Allah agar Ia senantiasa menerangi qalbu ini dengan cahaya Allah yang tiada pernah pudar, agar Allah tidak membolak-balik hati kita kepada kekufuran setelah Ia berikan hidayah?
Ternyata kita hanya mementingkan diri sendiri, mau menang sendiri ketika kehancuran, ketika kegagalan, ketika bencana sedang melanda, ketika ujian sedang menimpa, kita ingat pada-Nya, kita meminta tolong pada-Nya. Ia terasa begitu dekat. Namun bila pertolongan itu tidak kita rasakan, kita berani-beraninya menanyakan “dimana pertolongan Allah? Seolah-olah Allah tidak pernah menolong kita. Namun jika sebaliknya yang terjadi, apakah kita ingat pada Allah, adakah kita ikuti perintah-Nya? Padahal kita tahu kalau bukan karena Allah kita tidak berarti apa-apa di dunia ini. Kita benar-benar tidak adil…
Walaupun kita tidak memenuhi hak-hak Allah, dan senantiasa berbuat maksiat kepada-Nya, bagi Allah itu tidak menjadi masalah, semua itu sedikitpun tidak akan mengurangi kekuasaan-Nya. Ia akan tetap mencurahkan Rahman dan Rahim-Nya kepada kita. Ia senantiasa akan memberikan pertolongan-Nya, sekali pun tidak diminta.
Janji Allah pasti benar, Ia telah menjanjikan kepada hamba-hamba-Nya keteguhan, kedudukan, dan pertolongan di muka bumi ini, namun pantaskah diri dan jiwa kita yang kerdil ini mendapat pertolongan, pembelaan dan keteguhan dari Allah? Sementara kita sendiri tidak menolong agama Allah, padahal Allah mengatakan “Barang siapa menolong agama Allah, maka Allah akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu” (QS Muhamad:7)
Pertolongan Allah sangat dekat bagi orang-orang yang mengikhlaskan diri menolong agama-Nya, orang-orang yang mengendalikan hawa nafsunya, orang-orang yang hatinya bersih, dan bagi orang-orang yang tidak mengikuti langkah syaitan. Sudahkah kita rasakan pertolongan Allah itu yang sesungguhnya amat sangat dekat dengan kita? (Yesi Elsandra)
Category: 0 komentar

Kenapa Tidak Minta Yang Terbaik?


eramuslim - Manusia memang tidak pernah luput dari yang namanya “menyesal”. Setelah menyesal, barulah dia merasa sedih dan memohon ampun pada Sang Khalik. Memang seperti itulah kodratnya. Tetapi bagi hamba yang telah mencapai titik keimanan yang lebih, tentunya ia tidak akan mengalami hal seperti diatas, dia akan pasrah kepada-Nya, dan menerima semua keputusan-Nya dengan lapang dada, sehingga tidak tampak penyesalan di wajahnya.
Manusia memang diberi nafsu oleh Allah Swt. Jika nafsu itu bisa dikelola dengan baik, artinya apa yang diinginkannya semata-mata adalah untuk mencapai keridhoan-Nya, maka apapun hasilnya, insya Allah, akan menyenangkan. Lain halnya jika manusia bernafsu akan suatu hal, tetapi ia tidak mengelolanya dengan baik, maka hasil apapun yang diberi Allah dianggapnya sebagai suatu tanda bahwa Allah tidak sayang lagi padanya.
Manusia hanya manusia pemikir, begitu kata teman saya, semuanya akan kembali kepada Allah juga. Ketika usaha sudah kita lakukan dengan segenap kemampuan kita, sudah sepatutnya semua hasilnya pun kita serahkan pada Allah, tidak lantas memaksa Allah untuk mengabulkan apa maunya kita sendiri. Allah Maha Tahu segalanya, apa yang ada di hati kita Dia tahu, apa yang terbaik untuk kita jelas Dia sangat tahu. Kenapa masih saja kita memaksakan suatu keinginan kepada-Nya?
Seringkali kita baca ayat yang menyebutkan bahwa, apa yang baik menurut kita belum tentu baik menurut Allah, dan apa yang buruk menurut kita belum tentu buruk menurut Allah, tapi kenapa pula kita seringkali tidak merealisasikan ayat tersebut?
Banyak rahasia Allah yang tidak kita ketahui, mungkin dibalik apa yang buruk menurut kita, Allah menyimpan suatu keberhasilan untuk kita di kemudian hari. Atau sebaliknya, mungkin dibalik apa yang baik menurut kita tersimpan suatu kegagalan di hari depan, sehingga tidak Ia kabulkan apa yang kita minta tersebut.
Sudah sepantasnya kita ber-husnudzon kepada Allah. Tidak berat rasanya di setiap do’a kita meminta Allah memberikan yang terbaik untuk hari depan kita, beratkah mengucapkan sebaris kata-kata itu? Mungkin berat karena hati kita masih dikuasai oleh nafsu. Nafsu yang menyelimuti hati punya porsi lebih besar dari kepasrahan kita kepada-Nya. Coba kita latih untuk bisa mengucapkan kalimat itu di hadapan-Nya, setiap kita berdo’a. Jika kita sudah mampu mengatakannya, insya Allah, hati kita telah pasrah kepada-Nya dan insya Allah hasil apapun yang Allah berikan akan dapat kita terima dengan ikhlas dan lapang dada. Allah pun, insya Allah, akan memberikan pahala buat kita. Amiin.
Berdo’a apa saja memang Allah anjurkan, asalkan itu adalah kebaikan. Tapi tidak ada salahnya jika di setiap akhir do’a kita sisipkan kata-kata itu, sehingga hati lebih tentram. Saya yakin hasil apa pun yang akan Allah berikan akan dapat kita terima dengan ikhlas dan menjalaninya pun akan dengan senang hati.
Mulailah untuk dapat meminta yang terbaik kepada Allah, jangan sampai kita terbelenggu oleh nafsu kita sendiri. Ingat, Allah Maha Tahu dan akan memberi yang terbaik untuk hamba-Nya yang beriman. Wallahu’alam bishowab.
Terimakasih ya Allah, hamba tahu inilah yang terbaik untuk hamba.
Azkia_Salsabila
Category: 0 komentar

Allah Juga kah Yang Mentakdirkan Manusia Dosa?


Publikasi: 01/08/2003 10:26 WIB
Ada sebuah wacana menarik ketika seorang anak muda melontarkan pertanyaan kepada seorang Ustadz.
“Ustadz, Allah jugakah yang mentakdirkan manusia dosa ?”, tanya pemuda itu membuka percakapan.
“Manusia itu sudah diberi akal untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Mana yang berpahala dan mana yang dosa. Jadi manusia itulah pada hakekatnya yang mendhalimi dirinya sendiri, sehingga dia terjerumus
dalam dosa”, jawab sang ustadz dengan senyum ramah di bibirnya.
“Jadi, kuncinya pada akal manusia ?”.
“Ya, justru itulah yang membedakan manusia dengan hewan atau makhluk lain”.
“Lalu, siapa yang menggerakkan akal sehingga dia bisa memilih jalan sorga atau neraka ?”, anak muda itu terus mengejar dengan pertanyaan.
“Faktor utama kualitas output itu ditentukan oleh kualitas input. Itulah hukum dasar produksi; yang juga berlaku untuk akal kita. Analoginya, kalau bahannya cuma semen, pasir dan air, mustahil bagi kita untuk membuat ubin marmer. Ubin marmer inputnya ya marmer. Artinya, agar otak kita memutuskan jalan sorga, inputnya harus amal kebaikan. Misalnya pengajian, tartil Qur’an, majelis taklim, teman sholeh/sholekhah dan segala tuntunan Qur’an –
Hadist.”
“Siapa yang menggerakkan hati sehingga mampu memilih input dengan kualitas surga ?”
“Allahlah Sang Muqollibal Qulub (Pembolak Balik Hati)”, jawab Sang Ustadz dengan mantab.
“Jadi artinya Allah penentu “input surga” sebagai konsumsi otak manusia sehingga dia mampu memilih jalan ke surga. Allah juga penentu “input neraka” sebagai konsumsi otak manusia sehingga dia memilih jalan dosa. Bisakah saya menyimpulkan bahwa Allah juga yang menentukan manusia dosa ?”,
Si anak muda tadi berusaha menyimpulkan dari obrolan dengan sang ustadz.
Sang ustadz hanya tersenyum dengan kerut didahinya. Ia lalu mengatakan, "Demi Allah; tidak ada selembar daun keringpun yang jatuh tanpa izin-Nya. Tidak ada setetes darahpun yang mengalir dalam tubuh ini tanpa izin-Nya. Tidak ada kematian seserat neuronpun di otak kita tanpa seizin-Nya. Tidak ada setitik pikiran dan seucap katapun yang sanggup dilontarkan manusia tanpa seizin-Nya. Allahlah yang memberi hidayah manusia sehingga suatu kebaikan ringan dia kerjakan."
Mari ikuti beberapa uraian berikut. Shalat sudah menjadi kebutuhan, ucapan santun menjadi trade mark dan ibadah apapun terasa nikmat. Namun kadang kondisi ini membuat manusia makin lalai. Bukan lalai pada Tuhannya, tapi yang paling sering adalah lalai pada saudara sesama muslimnya. Dia berfikir bahwa orang setingkat dia harus hidup dengan komunitasnya. Dia takut kalau orang yang keimanannya dibawahnya, atau jauh dibawahnya akan memberi dampak negatif bagi perkembangan rohaninya. Walhasil, dia hanya hidup di kalangan komunitas exclusive bikinannya sendiri. Kalau kondangan saja, dia selalu ngumpul sesama “jalur” dan tidak membaur. Sukanya mengorek kekurangan kelompok lain dan merasa diri/kelompoknyalah yang paling hebat.
Inilah sisi lain yang dengan kasih sayang-Nya, Allah berusaha mengubah dengan “takdir lain”. Dia takdirkan dosa dengan apapun penyebab yang mungkin. Shalat tahajjud sampai kelelahan dan tertidur sebelum adzan subuh. Akhirnya terbangun Jam 06.30 pagi.. Langsung mandi, berangkat kerja dan tidak sempat lagi shalat subuh. Dapat sunnah tapi yang wajib ditinggalkan. Ibarat dapat tambal baju, tapi tidak pakai baju. Karena amalan sunnah itu hanyalah amalan tambahan sebagai tambal bolongnya amalan wajib. Bolong karena kurang ikhlas, riya’ atau hal lain.
Mari kita lihat saudara-saudara kita yang sedang dijalur “kurang beruntung”. Pekerjaan utama sebagai penjaja tubuh. Dapat duit untuk judi sambil minum-minuman keras. Setelah duitnya habis dia “jualan” tubuh lagi. Begitulah kesehariannya dia jalani dengan normal menurut ukurannya sendiri. Tidak ada kata dosa.
Duapuluh tahun berikutnya ketika usianya menginjak empatpuluhan, nilai jualnya sudah turun drastis. Persaingan makin ketat dengan munculnya “daun-daun muda” baru. Cari duit sudah sulit. Badanpun mulai sakit-sakit. Setelah di-cek ke dokter, ternyata kena AIDS. Hari demi hari tubuhnya kian kurus.
Detik demi detik dari setiap sisa nafasnya hanyalah untuk menanti kereta kematian. Dia terhenyak, “kepada siapa lagi aku minta pertolongan ?” Akhirnya dengan rasa malu dia menyebut sebuah nama yang sudah terkubur selama duapuluh tahun. “Allah……….Allah……….Allah……”, mulutnya gemetaran menyebut dengan air mata meleleh penuh ketulusan. Dia yakin se-yakin yakinnya hanya Allahlah yang sanggup menolong. Sajadahpun dia cari lalu digelar untuk shalat, taubat dan taubat. Tak ada sedikitpun kesombongan terbesit dihatinya. Karena memang tidak ada yang pantas dia sombongkan dihadapan siapapun. Dosanya menumpuk sedang amal sorganya baru dia mulai. Inilah sisi yang lebih “lain” lagi sehingga Allah mengubah takdirnya. Dari sesat menjadi hidayah. Subhanallah.
Dari kedua contoh yang saling bertolak belakang tersebut, dapat disimpulkan bahwa takdir Allah itu adalah tuntutan kasih sayang-Nya. Dia Maha Tahu dengan cara apa Dia membuat manusia berjalan di trotoar yang benar dalam ukuran-Nya. Semuanya bertujuan agar sang mahluk tunduk pada Sang Khalik dengan setunduk-tunduknya. Penuh keihlasan. Ikhlas dengan tujuan hanya kepada Allah. Bukan hanya untuk mencari popolaritas ditengah-tengah manusia, karena namanya memang sudah miring dalam pandangan manusia.
Perbaikan demi perbaikan tidaklah berarti lagi dimata manusia. Lalu kepada siapa dan kepada siapa lagi dia harus minta pertolongan ? Inilah titik kulminasi kepasrahan yang diciptakan Allah pada sang hamba agar dia benar-benar kembali ke pangkuan-Nya. Dengan demikian pertolongan dan keagungan Tuhan bukan hanya sekedar kalimat-kalimat puisi, lagu atau nyanyian tapi lebih dari itu; dia akan rasakan dengan sepenuh hati. Kesimpulannya bahwa Allah tidak akan menjatuhkan takdir dengan sia-sia.
Dengan kasih sayang-Nya, tidak ada satupun dari takdir-Nya yang merugikan manusia. Semua bertujuan agar manusia kembali ke pangkuan-Nya dengan kesucian karena dia berangkat ke dunia dengan kesucian pula. Semua bertujuan agar manusia benar-benar sepenuhnya bergantung pada-Nya, sehingga tidak ada kemusyrikan dihatinya, walaupun sebesar zarrah.

Kupersembahkan buat semua sahabat muslim / muslimahku di seluruh dunia, khususnya Nina dan Zulfa.
sugito@aitbatam.com
Category: 0 komentar

Setiap Manusia Punya Kelebihan


eramuslim - Debu-debu terminal ditingkahi terik matahari dan deru mesin kendaraan siang itu berhasil membungkam mulutku dan teman-teman yang biasanya tak pernah absen mengeluarkan suara. Bertepatan dengan jam kepulangan siswa-siswa siang itu, terus terang penantian itu menghadirkan rasa bosan. Haus, panas, lelah dan sederet keluh lainnya dilantunkan oleh hati diam-diam, mungkin juga oleh empat orang temanku itu, sepertinya mereka juga sibuk dengan suara hati masing-masing. Hampir empat puluh lima menit penantian ini berlangsung, bus kota yang datang secepat kilat penuh. Bagaikan kawanan lebah, calon penumpang langsung menyerbu ketika bus yang ditunggunya datang. Aku dan teman-teman seperti kehilangan energi untuk mengikuti langkah mereka.
Tiba-tiba ada yang tersenyum padaku dari kejauhan, satu blok dari tempatku duduk. Ups! Bukan kepadaku ... tapi pada gadis yang berdiri di sampingku. Dia bukan saja tersenyum sobat! Pemandangan itu begitu memukau ... mereka sedang asyik bercerita dan bercanda. Subhaanallaah, begitu sempurna kebesaran-Mu Allah. Canda dua orang gadis tuna rungu itu tidak terpengaruh sedikitpun oleh deru mesin yang sungguh tidak bersahabat. Walaupun aku tidak mengerti bahasa isyarat tapi aku bisa mengetahui kalau mereka sedang berbagi cerita yang indah. Bisa dilihat dari ekspresi wajahnya yang seringkali tertawa.
Pikiranku menerawang, secuplik renungan hadir ... Begitu adilnya Allah, disaat aku dan teman-teman gusar tidak bisa bicara karena kalah bersaing dengan deru mesin disaat itu pula Allah memperlihatkan keindahan ciptaan-Nya, dua orang gadis tuna rungu itu tidak terganggu sama sekali! Mungkin saja karena keterbatasannya, mereka tidak pernah “ngegosip” karena memang mereka tidak bisa mendengarkan percakapan orang-orang normal seperti diriku yang kerap “ngomongin” orang sadar atau tidak. Pastinya, telinga mereka tidak pernah tersentuh oleh musik-musik maksiat atau kata-kata kotor dari corong televisi yang sering singgah di pendengaranku.
Ya Allah, alangkah bijak-Nya Engkau menegur hambamu ini. Aku malu… masih ada sederet keluh kesah lagi yang bersarang di hatiku dan Engkau Maha Tahu waktu yang tepat untuk mengingatkanku. Ampuni hamba ya Allah. Segala keterbatasanku mengharapkan ke-Maha Sempurnaan-Mu. Muliakan mereka dengan keberadaannya. Aamiin.
Semoga setiap kejadian bisa membawa hikmah kepada kita semua. Allah sangat menyayangi kita dan kasih sayang itu bisa berwujud apa saja, tergantung kegigihan kita untuk mengakuinya. Wallaahu a’alam.
Category: 0 komentar

Yang Kusyukuri Dari Sakit Ini


eramuslim - Lelaki itu –entahlah –sepertinya sudah ditakdirkan menjadi tempat bersarang bagi bermacam penyakit. Renta, lapuk, kuyu... padahal usianya belum lagi genap empat puluh. Tapi satu yang saya lihat indah padanya: pancaran kehidupan.
Lelaki ini, saya pikir, adakah yang bisa dinikmatinya dari hidup? Mungkin tak ada. Diabetes membuat ia harus mengonsumsi makanan-makanan berkadar gula rendah dan minum air putih. Sementara hipertensinya membuat ia tak boleh menyentuh makanan-makanan seperti daging, telur, bahkan konsumsi garam pun dibatasi. Padahal... apa nikmat makanan tanpa garam? Tak ada makanan ‘lezat’ yang bisa ia nikmati, pun dengan minuman ‘manis.’ Penyakit telah menceraikannya dari rasa yang menjadi simbol bagi nikmat yang Allah percikkan ke dunia.
Itu masih belum semua. Ia juga menderita lever. Ginjalnya pun tidak normal yang mengharuskannya cuci darah secara berkala. Matanya rabun, telinganya tak berfungsi dengan baik. Oya... ia juga pernah terkena stroke sehingga mengakibatkan sebagian tubuhnya lumpuh.
Sungguh, entahlah, apakah saya akan sanggup bertahan jika harus menanggung semua itu secara bersamaan. O, tidak... tentu tidak. Saya tidak akan mengambil pisau di meja itu lantas memotong urat nadi, atau mencampur segelas air dengan racun tikus atau obat serangga dan meminumnya agar dipercepat kematian itu tiba. Tak pula saya akan menggunakan ikat pinggang untuk menjerat leher. Seawam apa pun saya tentang takdir, saya tahu bahwa bunuh diri adalah sikap paling pengecut dari orang-orang yang pernah hidup.
Namun, meskipun saya bisa memastikan diri tak akan melakukan tindakan bodoh itu, namun saya tak yakin apakah saya akan terbebas dari kesibukan mengeluh.
Ya, benar. Mengeluh. Saya tidak akan mengatakan Tuhan tidak adil. Tentu adil. Keadilan dalam pandangan-Nya tentu berbeda dengan keadilan di mata seorang hamba. Dia selalu istimewa dalam membahasakan cinta. Ia juga begitu indah dalam menjelaskan keluasan makna adil. Tapi, sampai hari ini, saya masih belum bisa membaca -–kendati saya yakin-- apa yang bisa disyukuri oleh lelaki dengan sejuta penyakit ini, sehingga saya bisa mengatakan bahwa ia menerima keadilan Allah.
Kenapa? Jika lelaki itu seorang bajingan, bandit kampung atau residivis, lantas menerima penyakit semacam itu, maka saya cukup bisa mengatakan, “itu adalah balasan Allah untuk perbuatannya. Allah berkenan membalas amalannya di dunia selagi dia masih hidup. Harusnya dia beruntung sebab terhindar dari pelipatgandaan siksa di yaumil baats.”
Tapi tidak dengan lelaki ini. Ia menderita cacat dan ketidaklengkapan jasmani semenjak lahir. Penyakitnya itu menyerang jauh semenjak dia baru mulai menapaki usia remaja di mana kedewasaan menjadi syarat dihitungnya amal atas diri seseorang.
Mungkin, dengan melihatnya, saya bisa bersyukur. Bukan bersyukur atas keadaannya, tetapi bersyukur atas keadaan saya. Melihat keadaannya, saya bisa melihat betapa keluangan begitu banyak berpihak pada saya. Betapa banyak keberuntungan dan nikmat yang ada pada saya namun saya tak melihatnya selama ini. O, tak usah semua, jika saja mata lelaki ini berfungsi normal seperti saya, mungkin ia bersyukur bisa menikmati keindahan yang terpampang di depannya. Lantas saya mensyukuri penglihatan saya. Jika telinganya berfungsi normal, ia bisa mendengar keindahan suara-suara sebagaimana saya. Maka saya mensyukuri pendengaran saya. Jika... jika....
Dia, kata saya, mungkinkah memang diciptakan Allah untuk menjadi pelajaran bagi yang sehat, lantas pada saatnya nanti ia akan menjadi pelajaran bagi yang hidup? Jika benar demikian, lantas apa yang bisa menjadi hak dari lelaki ini? Perlukah baginya bersyukur atas apa yang telah ‘dikaruniakan’ Allah kepada-Nya?
Anehnya, di wajahnya saya melihat pancaran kehidupan yang membuat saya begitu silau. Saya selalu bertanya tentang rahasia dari binar hidup di wajahnya itu. Saya merasa ada lautan syukur yang begitu dalam di sana. Lautan itu menenggelamkan segala yang saya pikirkan. Karenanya, saya selalu kehilangan kata-kata untuk berkata begini dan begini di hadapannya.
-----
Lelaki ini, apa yang kurang padanya? Wajah tampan, kesehatan prima, harta bersisa, kedudukan berwibawa, istri yang sempurna.... Hampir tak ada yang bisa dicela darinya. Senyumnya ramah kepada semua mata. Ia berjalan dengan tegap namun tidak dengan gaya jumawa. Pakaiannya sahaja kendati semua orang tahu ia tak pernah papa.
Sungguh-sungguh, lelaki ini adalah gambaran kesempurnaan yang mungkin pernah Allah berikan kepada Yusuf a.s.
Kenapa saya berani menyebut denikian? Saya bukan hendak mengatakan ketampanan lelaki ini setara dengan Putranda Ya’qub a.s. itu. Saya hanya membuat tamsil bahwa lelaki ini adalah perpaduan dari keindahan, ketampanan, keimanan, keperkasaan, kekayaan, kesederhanaan, kerendahhatian... dan entah apa lagi.
Saya memandangnya dengan rasa iri. Bukan untuk saya... tapi untuk lelaki dengan sejuta penyakit yang kini tergolek di rumah sakit menjalani cuci darah secara berkala. Jika saja sedikit dari yang dimiliki lelaki sempurna ini dianugerahkan Allah kepadanya, maka alangkah saya bisa berkata, ada sedikit yang bisa disyukuri dari hidup yang diserahkan Tuhan pada umurnya.
-----
Benarkah tak ada yang disyukuri dari hidupnya itu? Entahlah, saya belum bisa menjawab. Hari ini, si lelaki sempurna tiba-tiba meninggal dunia. Cara meninggal yang cukup baik, saya rasa. Semua orang menangis, meratap-ratap atas kepergiannya. Akan banyak hal bisa dikenang dari lelaki sempurna itu. Gaya berjalannya, caranya menyapa, pandangannya yang lembut teduh, senyumnya yang hangat.... Ada begitu banyak jejak bisa dibaca setelah ia pergi kembali pada kekasihnya.
Tapi, bagaimana dengan lelaki pemilik sejuta penyakit ini? Siapa yang akan menangisinya jika ia mati nanti? Siapa akan mengenang senyumnya yang nyaris tak ada atau dikenal orang? Siapa akan mengingat gaya berjalannya sedang waktunya habis untuk bergolek di ranjang rumah sakit? Bahkan mungkin namanya tersesat dari ingatan orang-orang, tak terlacak. Nisannya akan menjadi tugu tak bernama, lantas pelan-pelan hilang dimakan usia.
Hari ini, saya melihat matahari di wajahnya. Wajahnya berpijar-pijar hingga hampir saya habis ditelan pendarnya. Paras itu cerah, senyuman penuh syukur dan keikhlasan, begitu yang saya tangkap kendati sampai hari ini saya belum juga bisa menemukan apa yang sekiranya bisa ia syukuri sehingga cukup pantas senyum itu terpahat di wajahnya.
“Yang saya syukuri dari sakit ini,” katanya pelan, “adalah bahwa Allah mengakrabkan saya dengan kematian sekaligus memberi waktu begitu panjang untuk mempersiapkan diri menyambutnya.”
Saya mengernyit oleh bisikannya. Inikah rahasia dari senyum matahari yang ada di wajahnya? Astaghfirullah... betapa bodohnya saya. Sungguh, betapa saya tak mengerti selama ini tentang rahasia syukurnya. Betapa iri saya. Bukan saja iri pada kecakapannya bersyukur, tapi juga iri betapa ia selalu diingatkan pada kematian oleh berbagai penyakit yang ia derita. Sementara sakit bagi saya adalah keluhan... keluhan... keluhan.....
Sakti Wibowo
sakti@syaamil.co.id
Cikutra, 4 Februari 2003
Category: 0 komentar

Cobalah Mencintai-Nya


eramuslim - Cinta mungkin sebuah kata agung yang paling sering membuat seseorang tergugu di hadapannya. Segala teori dan argumentasi yang dilontarkan akan lumpuh begitu saja saat kita sendiri yang mengalami bagaimana hebatnya cinta itu mempengaruhi diri kita. Mungkin sulit dipahami bagi orang yang sedang tak mencinta, bagaimana rasa cinta itu menjelma menjadi ratusan ribu pulsa telepon, berlimpahnya waktu untuk menunggu yang terkasih walau kita sedang dalam deadline ketat, terbuka lebarnya mata mengerjakan tugas-tugas demi membantu yang tersayang. Bongkahan pengorbanan yang tak rela dipecahkan…
Merasakan cinta seperti merasakan hangatnya matahari. Kita selalu merasa kehangatan itu akan terus menyirami diri. Setiap pagi menanti mentari, tak pernah terpikirkan akan turun hujan atau badai karena kita percaya semua itu pasti akan berlalu dan mentari akan kembali, menghangati ujung kaki dan tangan yang sedikit membeku. Mentari ada di sana, dan dia pasti setia.
Terkadang kita lupa, matahari yang hidup dan mengisi hidup itu adalah hamba dari Penguasa kehidupan, kehidupan kita, kehidupan matahari. Satu waktu matahari harus pergi, walau ia tak pernah meminta, walau pinta tak pernah kita ucapkan. Jadi, ia akan pergi, apapun yang terjadi. Karena ini adalah kehendak-Nya. Segala yang ada di dunia ini tidak pernah abadi, karenanya ia bisa pergi. Selamanya, bukan sementara. Inilah dunia. Senang atau tidak, kita hanya bisa terima. Mungkin kita ingin protes, ingin teriak; betapa tak adilnya! Tapi kita cuma akan dijawab oleh tebing karang yang bisu, atau lolongan anjing dari kejauhan yang terdengar mengejek. Mungkin kita kecewa dan ingin mengakhiri hidup. Mungkin kita begitu ingin memukul, tapi cuma angin yang bisa dikenai. Sekarang coba dulu lihat, apakah itu mengubah apa pun? Tak ada yang berubah kecuali semakin dalamnya rasa sakit itu.
Maka ketika kuasa-Nya yang mutlak menjambak cinta sementara kita pada matahari, kita bisa apa? Karena kita cuma hamba, kita cuma budak! Kita hanya bisa menelan kepahitan yang kita ciptakan sendiri.
Mungkin yang perlu kita jawab; mengapa kita melabuhkan cinta begitu besarnya pada manusia? Padahal kita tahu tak ada yang abadi di dunia ini. Mengapa?
Allah menciptakan cinta di antara manusia. Dia yang paling hebat, paling tahu bagaimana cinta itu, bagaimana mencintai, bagaimana dicintai. Kenapa kita begitu sok, merasa paling mencintai, merasa paling dicintai, merasa memiliki segalanya dengan cinta. Padahal cinta itu cuma dari manusia, untuk manusia. Dan suatu hari cinta itu akan hilang. Mungkin tak cuma pupus, tapi tak berbekas, tak berjejak. Hanya cinta yang begitukah yang kita inginkan?
Kenapa kita tak mencoba raih matahari cintanya Allah, yang tak pernah tenggelam dan tak pernah sirna. Tak pernah usang, tak hancur, dan tak akan pernah sia-sia. Mencintai Allah? Terlalu abstrak, terlalu aneh. Masa’? Itu karena kita tak pernah merasa dekat, tak pernah berusaha mendekati-Nya. Allah menjadi asing karena kita memposisikan Allah sebagai sesuatu yang berada di langit yang tinggi dan tak mungkinlah kita mencapainya. Jangankan mencintai, membayangkan untuk mendekatinya saja tak mungkin.
Tahukah kamu, Dia menawarkan cinta-Nya untuk kita. Hebat ‘kan? Kita? Manusia yang hina dina yang berasal dari setetes sperma yang hina? Ditawarkan cinta dari pembuat cinta? Cck… ckk… Apa nggak salah, nih? Kemudian kita malah menolak dan menjauh? Wah… wah… betapa bodohnya ...
Kalau cinta seperti itu tertolak, cinta apa lagi yang kita harapkan? Cinta yang membawa pada kekecewaan, rasa sakit, atau derita? Cinta yang hanya mekar semusim lalu luruh tak berbekas, bahkan wanginya. Percayalah… cinta yang ditawarkan-Nya tak pernah menguncup, mekar, atau luruh. cinta-Nya abadi, mekar selamanya. Dan Dia akan memberi kita cinta dari manusia. Mentari itu terus di sana, kapan dan di manapun kita ingin merasakan hangatnya. Kita punya cinta dari Allah.
Apakah kita tak berniat membalas ketulusan cinta itu?
al Birru
emine_mm@maktoob.com
GIP Depok, 10 Juli 2003
To Irs.H.; Cobalah mencintai-Nya, ya…
Category: 0 komentar

Kawan, Pernahkah Seberdosa Ini?


Semakin kutahu
Jika pepohonan dijadikan pena
Dan laut menjadi tinta
Niscaya takkan pernah cukup
Tuk menuliskan semua nikmat-Nya
eramuslim - Lelah. Rasanya terlalu lelah untuk terus berdo’a kepada Allah. Hari ini entah sudah kesekian kalinya aku meminta, tapi tak jua Dia mengabulkan permintaanku. Pekan lalu, saat ku membutuhkan pertolongan Nya, Ia tak segera mengulurkan tanganNya. Ah, jangankan yang baru-baru ini, puluhan bahkan ratusan pintaku bulan-bulan sebelumnya, juga tahun sebelumnya, kalau kuingat-ingat, belum juga terkabulkan.
Tapi, apa salahnya malam ini ku mencoba berdialog kembali dengan Nya, semoga saja ia mau mendengar. Baru saja kususun jemari ini, belum sempat baris kata-kata yang sebelumnya sudah kurangkai indah di dalam benakku deras terburai keluar dari mulutku, mataku menangkap tajam jemariku yang bergerak …
Astaghfirullaah … seketika dadaku sesak. Berdegub kencang. Ingin kuhapus kata-kataku diatas. Tapi sudah terlanjur tumpah. Aku malu telah lancang kepadaNya dan menihilkan semua yang telah diberikan-Nya.
Sedetik kemudian, seiring dengan menggenangnya air di pelupuk mata ini yang siap tumpah bagai gelombang yang menunggu perintah menghantam karang, benakku sudah disesaki dengan jutaan tanya …
Pernahkah aku meminta kepada Nya untuk memberikan kepadaku jemari yang lengkap dan indah ini, sehingga aku bisa banyak berbuat dengan kesempurnaan penciptaan ini. Aku tak pernah meminta sebelumnya agar Ia melengkapi tanganku ini dengan jemari, aku juga tak pernah berdo’a untuk berbagai kesempatan hingga detik ini aku masih bisa menggerakkan, dan menyentuh dengan jemariku ini. Tapi sampai detik ini, Dia masih memberikannya kepadaku …
Harus kusentuh lagi beberapa anggota tubuh ini. Kemudian aku berdiri, subhanallah, aku masih bisa berdiri. Padahal aku tak pernah sebelumnya meminta agar terus ditetapkan memiliki dua kaki sempurna, tapi Dia masih terus memberikannya. Kupandangi, ups… sebelum kulanjutkan … dengan apa aku memandang? Pernahkah aku meminta Dia menganugerahiku sepasang mata indah ini? Sehingga semua terasa begitu indah untuk dinikmati, semua alam dan lukisan semesta menjadi penghibur hati dengan adanya dua mata ini. Kuyakin juga –aku tak pernah lupa- tak pernah memohon kepada-Nya untuk tetap memberiku dua telinga dengan fungsi pendengaran yang baik. Tapi kenapa aku masih bisa mendengar?
Test … test … satu, satu, dua tiga ….
Sengaja aku mengetes suaraku. Masih jelas terdengar. Tapi, bukankah Dia memberikannya begitu saja kepadaku tanpa pernah aku memintanya? Lalu aku berjalan, Alhamdulillah aku masih bisa berjalan. Keluar kamar, ke ruang tengah, kulihat masih terlihat sederet makanan di meja makan, kucicipi sepotong tahu. Enak, ya enak. Tapi kenapa aku masih bisa merasakan nikmatnya sepotong tahu? Juga segarnya menyeruput sebotol juice buah yang kuambil dalam kulkas? Yang pasti, tak pernah barisan kata pinta terucap tuk sekedar memohon agar tetap diberikan kemampuan merasa …
Kuterus berjalan. Ke kamar mandi. Ada air. Kusentuh segarnya air itu. aah, sejak kapan aku merasakan kesegaran ini. Mungkinkah ketika terlahir dulu sempat aku meminta kepadaNya agar dikaruniakan kesegaran macam ini? atau … hhhhhh, kuhirup udara malam yang sejuk. Eh, apa pernah aku minta Dia tak menyetop pasokan udara untukku? Bahkan … aku masih hidup, aku masih hiduuup (teriakku) … siapa yang tahu dan bisa menerka sampai kapan aku masih bisa menikmati hidup. Tapi yang jelas tak pernah sekalipun keluar dari mulut ini rangkaian kata: “Tuhan, terima kasih atas semua nikmat Mu, sampai hari ini.” (Bayu Gaw)
Masih saja banyak pintaku
Dan air mata itupun tumpah deras membasuh kegersangan jiwa ini …
Category: 0 komentar

My Beloved Bunda ... (Surat Untuk Bunda)


Oh ibuku, dengarkanlah suara dalam hatiku.
Ku bersyukur, ku bahagia
Akan limpahan rahmat-Nya

Ku ingat hari-hari yang indah
Ku ingat masa masa lalu
Betapa senang ketika ku bersama ibu.

Kau ajar aku mengenal Allah,
Lewat apa yang dicipta
Kau ajar aku mencinta Allah
Lewat sholat dan puasa

Jalinan kasih darimu ibu,
Terukir indah dalam hatiku,
Kesabaranmu tak pernah pupus oleh sang waktu

(Bestari)
eramuslim - Hari cerah, matahari begitu gembira membagikan sinarnya ke penjuru bumi. Ditemani kipas angin yang berputar, saya menulis ulang sebuah surat tak bertanggal untuk seorang bunda. Surat yang ditulis pada sebuah catatan harian dan tak tersampaikan. Hanya goresan pinsil usang, saat saya sampai pada usia label 17 tahun.

Surat ini juga saya sampaikan untuk semua bunda yang ada di dunia, sebuah ekspresi penghargaan yang tak sebanding dengan hal yang engkau persembahkan bagi kami anak-anaknya. Sebuah tanda cinta, tanda berkelindannya rasa bahagia. Menjadi seorang bunda adalah hal terindah yang pernah saya lihat. Bunda adalah segalanya.

SURAT KEPADA BUNDA
Pojok kamar bercat putih pucat, malam sudah dari tadi beranjak.
Menjumpai Bunda,
Apa kabar bunda?
Bunda, aku ingin menyebutmu demikian, sebagai penghormatan yang tiada tara.
Malam ini, bulan sembunyi dengan angkuhnya, hingga aku tak bisa memandangi warna peraknya. Bintang yang gemerlapan itupun malah ikut mempermainkanku dengan tidak menampakkan diri. Padahal aku sangat ingin bermain-main sejenak, menerbangkan berbagai perasaan. Pada patahan malam ini, hanya ada deru angin yang sedang mencandai daun-daun pohon mangga di seberang kamar. Aku merasakannya dalam gelap. Sesekali aku memandangi langit megah tak berpenyangga.

Bunda,
dalam keheningan hebat ini aku selalu membayangkan senyuman ikhlas yang bunda sunggingkan setiap menjumpaiku. Sebuah senyuman yang sudah menjadi desah nafas tiada pamrih. Aku memahatnya dalam tiap bingkai indah di ruang hati yang sudah menemaniku selama ini.

Oh iya bunda,
aku masih ingat saat aku dengan tanpa beban memintamu menjadi seorang putri raja. Dan bunda menjelma putri raja sepenuh hati, menemaniku bermain saat aku menjadi permaisuri raja. Aku senaang sekali. Padahal kemarinnya aku menginginkan mu berubah menjadi pendongeng, dan sebentar kemudian engkau mulai membuaiku dengan banyak cerita. Aku mungkin akan mengingatnya selalu dalam benak sebagai kenangan tidak biasa. Saat bunda melompat seperti kodok, tertawa menyeramkan seperti nenek sihir, berdesis kepedasan saat monyet mencuri cabai petani. Saat itu aku pasti latah mengikutimu.

Baru kusadari, ternyata bunda bisa menjelma peran apa saja. Koki pintar yang selalu memuasiku dengan makanan tak bertarif. Atau seorang psikolog handal, yang berjam-jam rela menjadi keranjang sampah cerita rutinitas ku tanpa harus dibayar. Dokter yang menjagaku sepanjang malam tanpa lelap sedikitpun, kala aku harus terbaring mengalami sakit dan itu gratis. Kali lain engkau menjadi sahabat dekat yang mengingatkanku untuk berhati-hati dengan seorang pangeran, saat itu aku tersenyum malu, ternyata kau bisa menebak apa yang belakangan itu terjadi. Oh iya aku tidak lupa, ketika bunda menjahitkan ku sebuah gaun krem bermotif sekuntum bunga, meski kau kerjakan manual tapi hasilnya membuatku berucap, "Wah bunda hebat!". Dan aku selalu mengangsurkan geraian rambut ini, tentu saja dengan berdendang bunda akan melakukannya dengan hasil baik.
"She is a special barber".

Bunda sayang, besok adalah hari "jadiku". Yah, setiap hari bertanggal 4 di bulan ini ku lewati setiap tahun. Ingatkah bunda, tentang hari besar itu? Aku tahu jawabannya, karena tiap hari itu, bunda akan menyambut dan memelukku dengan berucap "Tambah satu tahun lagi usia anak bunda". Meski tidak pernah ada pesta, aku selalu senang, karena sudah ada hadiah yang paling indah, it's u bunda!.

Bunda, tujuh belas tahun, usiaku esok, Sudah selama itukah aku menapaki hidup? Perasaan baru kemarin aku mengeja "Ini Budi" dan menghapal perkalian 3. Sepertinya baru kemarin aku merepotkanmu dengan pertanyaan-pertanyaan ibukota propinsi di Indonesia. Ah bunda, masih segar rasanya merengek-rengek ingin ikut ke kota bersamamu. Padahal sekarang aku bisa pergi kapan saja tanpa takut tidak ditemani.

Sudah selama itukah aku menjadi bebanmu? (Aku sangat yakin engkau tidak berkenan dengan penggunaan kata "beban"). Bagimu, aku adalah tempat untuk mengekspresikan banyak hal, kasih sayang, ketulusan, kebijaksanaan, keluhuran budi, kekayaan alami, kecerdasan, kearifan. Untukmu, aku adalah perwujudan cinta hakiki. Satu hari bunda menangis melihat darah yang keluar ketika aku terjatuh, dan bunda memelukku erat, "Sayang... berikan rasa sakit itu untuk bunda". Ah bunda, andai saat itu bisa kubujuk untuk kembali, aku tak akan meraung-raung dan tidak membuatmu khawatir, aku akan berkata "Aku baik-baik saja bunda".

My dear bunda,
surat ini sengaja aku tulis. Agar aku bisa menyapamu dengan agung, biar perasaan romantis ini bisa leluasa mengalir. Aku malu menyampaikannya secara langsung. Rasa terima kasih yang menggumpal dalam dada ini biarlah terangkai dalam kalimat-kalimat berirama sopran. Ah, bunda, aku tak punya keberanian untuk menyanjungmu terang-terangan, seperti yang selama ini bunda persembahkan. "Ayo sayang, tidurlah" atau "Duh anak bunda paling cantik sedunia" atau "Jangan begitu, bunda yakin kau anak pintar dan mampu melakukannya dengan baik" bahkan "Anak sholehah tak akan melakukan ini", "Geulis, pinter,sholeh......, anak gadis tak baik menyanyi di kamar mandi".

My love bunda,
Kedewasaan (sebuah kata yang kutemukan dalam pelajaran bahasa indonesia) seharusnya menjadi milik seorang yang berusia 17 tahun kan? He..he.. sepertinya aku akan meminta bantuanmu agar bisa memilikinya. Tolong yah!

Bunda, dalam sunyi, aku menyempatkan diri mengingat pesanmu bulan lalu "Seiring usia yang bertambah, sebaliknya jatah umur kita berkurang. Seseorang yang bergembira dengan hari kelahirannya, sesungguhnya dia bersuka dengan majunya kematian". Iya bunda, aku setuju dengan nasihatnya. Aku seharusnya menambah kadar mawas diri, memperbaiki kualitas akhlak dan kepribadian, semakin ringan menolong sesama, makin bijak dalam memilih dan tentu saja kian cendikia. "Tidak lupa diri". Itu tambah bunda kemudian.

Bunda, terima kasih sudah menyeberangkan aku ke usia ini dengan selamat. Terima kasih juga atas rambu-rambu yang senantiasa menjadi pengarah hingga aku tidak terantuk dan tersesat. Berjuta rasa bahagia, karena telah menjadi seorang ibu yang bijaksana, seorang yang selalu mewarnaiku dengan do'a-do'a ikhlas, seorang yang mendorongku untuk menjadi kaya ilmu dan budi. Jasa indah bunda tak terbilang. Aku hanya mampu menggoreskanya dalam sebentuk puisi sederhana:
Dia seperti Rimbun pohon kebijaksanaan,
Yang selalu naungi dunia kecil milikku
Sebarkan wangi kedamaian
tak henti memberiku semangat menapaki hidup

Dia, menjelma telaga teduh sepanjang waktu,
Tempatku bertambat, bermain dan bermimpi
Riak airnya membiakkan banyak kebahagiaan
Menemani segala bentuk hari yang ku lalui

Aku tak pernah mendapatinya kering,
Meski musim tidak terhitung berganti
Aku tak pernah melihatnya tumbang
Walau gelombang yang mendera bertubi-tubi

Dia tetap tersenyum menjumpaiku
Dia tetap membagi aku dengan kecupan sayang
Bunda, aku menyebutmu demikian
Dan bunda, malam ini sudah sepatutnya aku mengulurkan renda-renda do'a untuk mu. Doa yang bunda sendiri ajarkan. "Ya Allah, ampunilah aku dan kedua orang tuaku, Sayangilah mereka seperti mereka menyayangi dan mendidik aku di waktu kecil".

My beloved bunda,
bila esok tiba, tak kan kusia-siakan untuk mereguk kebersamaan dengan engkau. Kesempatan untuk mendulang lebih banyak hal menakjubkan juga tidak akan kumubadzirkan. Engkau adalah orang terkuat di dunia kecilku, dalam naungan langit mungil yang selalu mengakrabkanku dengan dunia sebenarnya. Engkau adalah muara dari segala hal yang aku butuhkan. Aku tidak akan menjadi apa-apa bila keberadaanmu nihil. Dan bunda, bantu aku manjadi sosok yang diharapkanmu. Karena aku sadar, tidak mudah membangunnya sendirian. Akhirnya semoga bunda baik-baik saja. Semoga Allah selalu menyayangimu dengan memberimu kekuatan untuk selalu menyayangiku :). Bunda, tunggu aku besok, aku berjanji untuk membuatmu tersenyum menatap bola raksasa itu pergi ke kaki langit.
"Hueammmm" aku mengantuk, jam mungil yang tergantung memberitahuku bahwa jarum pendeknya sudah ada di angka 2.
Sekian dulu bunda.
Peluk cium dari ananda
mahabbah12@yahoo.com
Untuk yang baru saja pulang menjumpai ibundanya.
Category: 0 komentar

Jagalah Makananmu Maka Allah Akan Menjagamu


eramuslim.MasyaAllah, Sebanyak ini….?
Kuamati kembali daftar dzat halal dan haram yang tertera di dalam majalah tersebut. Aku benar-benar shock karena makanan yang selama ini masuk dalam tubuhku mengandung dzat haram. Ingin rasanya aku keluarkan kembali semua isi perutku tapi hal itu tidaklah mungkin. Penyesalan tidak ada gunanya justru saat inilah seharusnya aku banyak bersyukur kepadaNya. Dia Yang Maha Tahu telah mengingatkan aku betapa pentingnya menjaga setiap tetes dzat yang masuk ke dalam tubuh. Dia Yang Maha Tahu pula yang telah mengajariku bahwa dengan menjaga makanan kita, maka kita telah menjaga keimanan.
Saat ini, di negeri orang yang mayoritas penduduknya non muslim, aku merasakan betapa pentingnya arti makanan. Disaat yang lain makan dengan lahap, sementara kita harus teliti membaca kandungan dzat makanan kita. Disaat yang lain bebas memilih makanan kesukaan kita, sementara kita harus menahan rasa lapar yang mendera. Dan semua tidak semudah seperti yang aku bayangkan sebelumnya karena dzat-dzat itu tidak hanya menyeretku ke jurang kemalasan dan ke lembah kehinaan tetapi menutup semua jalan yang ingin aku lewati. “Ya” Aku jadi malas beibadah kepadaNya, dan Allah tidak memperkenankan aku bermunajat kepadaNya di malam hari karena tanpa aku sadari telah begitu banyaknya dzat haram yang masuk kedalam tubuh ini. Belum lagi urusan-urusan tiba-tiba jadi sulit untuk aku tembus.
“Kenapa dzat? Kenapa tidak langsung khamr, daging babi dan yang lainnya?“
Karena yang besar dan terlihat secara fisik biasanya lebih mudah untuk dihindari. Justru yang kecil dan tidak terlihat yang sulit sekali dihindari dan kita mudah terjebak. Pada awalnya, aku hanya mengetahui dzat 472e saja yang haram. Setiap kali membeli sesuatu, aku selalu mengeceknya dan semua berjalan lancar. Ibadah harian yang biasa aku kerjakanpun tidak ada masalah berarti. Sampai akhirnya aku menyadari “ada sesuatu yang tidak beres.” Aku sangat sulit… sekali bangun malam walaupun aku sudah mencoba berbagai macam strategi. Dan akhirnya aku menemukan daftar itu di sebuah majalah Islam. Aku bersihkan semua makanan yang mengandung dzat-dzat tersebut dan mulai saat itu aku memilih tidak makan kalau kandungan dzatnya tidak jelas atau meragukan. Subhanallah kini aku bisa bangun malam kembali, bermunajat kepadaNya, dan melaksanakan ibadah yang lain dengan lebih khusyuk. Allahpun membuka begitu banyak jalan kemudahan untukku dan segala urusan menjadi lancar. Alhamdulillah segala Puji Hanya Untuk Allah Yang Mencintai kebaikan dan hanya menerima sesuatu yang baik.
Ada kebiasaan hidup yang hampir sama antara Rasulullah, para sahabat, dan orang–orang sholeh, mereka selalu menjaga makanan mereka. Menggalakan puasa demi penyucian diri dan kedekatan dengan RobbNya.
Masih segar dalam ingatan kita kisah seorang pemuda yang menemukan apel di sungai, kemudian ia memakannya. Ditengah menikmati apel itu, ia tersadar bahwa apa yang ia makan bukanlah miliknya. Setelah mencari dan mencari, akhirnya ia dapat menemukan sang pemilik buah apel itu. Akhir cerita, sang pemilik pohon apel, menikahkan pemuda itu dengan salah seorang anaknya. Bukti keimanan terpancar dalam diri pemuda tersebut. Ia sangat menyadari bahwa setiap tetes makanan yang masuk kedalam tubuh pasti akan mempengaruhi kecintaannya pada Allah. Karena setiap output pasti tergantung dengan input maka makanlah makanan yang halal, cek dzat-dzat yang terkandung didalamnya, jangan remehkan yang kecil, karena kita bisa selamat dengannya atau bahkan terpuruk dilembah kehinaan karenanya. Jagalah makananmu, maka Allah akan menjagamu. Wallahu'a’lam bishshowab (nnf@eramuslim.com)
Category: 0 komentar

Ketika Kita Berdo'a


eramuslim - Allah Swt berfirman: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasannya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”. (QS. Al Baqarah: 186)
“Dan Rabbmu berfirman: “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka jahannam dalam keadaan hina dina”. (QS. Al Mu’min: 60).
Allah Swt telah berjanji, untuk mengabulkan segala permohonan hamba-Nya apabila ia berdo’a kepada-Nya. Namun sering terjadi, do’a seseorang seakan tidak dikabulkan, atau ketika dikabulkan tidak pada saat sesuai dengan yang diminta. Sehingga sering timbul sebuah pertanyaan “akan dikabulkankah do’a saya? Kapankah do’a saya akan terkabul? Mengapa do’a saya tidak dikabulkan? Dan sebagainya.
Terkadang manusia tidak memiliki kesabaran dan berharap do’anya dikabulkan saat itu pula, tak sabar menunggu dan kadang timbul prasangka buruk kepada Allah, baik dilakukan secara sadar maupun tidak. Syekh Ibnu Athoillah dalam kitab Al Hikam menjelaskan bahwa, ada tiga kemungkinan yang akan terjadi dari do’anya seorang hamba. Kemungkinan pertama adalah do’anya dikabulkan saat itu juga, seperti do’anya tiga orang pemuda yang terjebak dalam gua yang pintunya tertutup oleh sebongkah batu. Maka batu yang menutup pintu gua itupun bergeser sedikit demi sedikit hingga terbuka secara sempurna ketika satu persatu dari pemuda yang terjebak itu memohon kepada Allah sambil mengutarakan perbuatan baiknya.
Kemungkinan kedua adalah do’a itu dikabulkan, tetapi pada saat yang dianggap lebih tepat oleh Allah, bukan pada saat yang diminta oleh seorang hamba, seperti do’anya Nabi Ibrahim yang memohon agar Mekah Al Mukarromah dijadikan negeri yang banyak dikunjungi manusia dan menjadi negeri yang kaya raya. Kini kita selalu dapat menyaksikan, betapa berjuta-juta orang datang berkunjung ke negri Mekah dari segala penjuru dunia untuk menunaikan haji memenuhi panggilan Allah Swt, dan negeri ini menjadi negeri yang kaya raya karena banyaknya cadangan minyak bumi yang ada di sana.
Kemungkinan ketiga adalah do’a itu tidak dikabulkan, tetapi diganti oleh Allah dengan sebuah kebaikan, sehingga seorang hamba yang rajin berdo’a dapat terhindara dari sebuah bencana atau cobaan dari-Nya.
Oleh karenanya, berdo’a dalam setiap kesempatan mutlak dilakukan oleh seorang mu’min, untuk mengharap pertolongan Allah, senantiasa dapat berjalan di jalan yang benar, dan terhindar dari bencana dan cobaan-Nya, disertai dengan rasa penuh harap kepada Allah dan penuh rasa takut kepada-Nya, serta tawakkal terhadap segala takdir yang ditentukan oleh-Nya setelah berusaha dan berdo’a. Sehingga tiada pernah ada prasangka buruk melintas dibenak kita kepada Sang Penentu, Rabb semesta alam Pencipta dan Pemilik kita. Wallahu 'a’lam bishshowaab. (Ummu Shofi/ari_aji_astuti@yahoo.com)
Category: 0 komentar

Kertas Hitam Putih


eramuslim - Disuatu kelas, guru agama di sekolah itu meminta murid-muridnya mengeluarkan dua lembar kertas berwarna hitam dan putih, sesuai dengan perintah kemarin agar membawa kertas tersebut. Tidak lupa, para murid itu juga sudah menyiapkan pinsil warna yang juga hitam dan putih. Kemudian guru tersebut meminta murid-muridnya untuk menuliskan kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan dari yang terkecil hingga kesalahan yang besar diatas kertas putih dengan menggunakan pinsil hitam. Sedangkan kertas hitam, para murid diminta menuliskan hal-hal baik yang pernah dikerjakannya dengan menggunakan pinsil berwarna putih.
Satu jam berselang, para murid hampir selesai menuntaskan tugasnya menuliskan semua kesalahan di kertas putih yang menggunakan pinsil warna hitam. Bahkan karena terlalu banyaknya kesalahan yang diperbuat, mereka tak lagi menemukan ruang kosong di kertas putihnya. Namun guru itu memaksa para murid untuk memanfaatkan ruang sekecil apapun yang masih tersisa di kertas itu untuk menuliskannya, walaupun harus dengan tulisan-tulisan yang kecil dan tak terlihat. Hingga hasilnya, semua kertas putih di tangan murid-murid itu berubah menjadi hitam. Hampir tak ada celah seruas pun di kertas itu, bahkan sebagian murid mengaku masih banyak kesalahan yang belum tertulis disitu.
Setelah itu, guru meminta murid-murid itu mengerjakan tugas berikutnya, yakni menuliskan kebaikan-kebaikan diatas kertas hitam menggunakan pinsil putih. Dalam waktu satu jam, nampak mereka merasa kesulitan membuat kertas hitam itu terwarnai dengan coretan-coretan kebaikan berwarna putih. Satu kebaikan mereka tulis, membuat mereka tersenyum karena bisa memutihkan kertas hitam itu meski sedikit. Namun hingga waktu yang ditentukan selesai, mereka murung, karena kertas hitam itu masih tetap dominan warna hitam. Teramat sedikit warna putih diatasnya, bahkan tak sampai separuh kertas hitam itu terisi. Tak jarang pula ada murid-murid yang malu karena hanya beberapa coretan putih saja menghias kertas hitamnya.
Saudaraku, hati yang fitrah, ini semakin lama akan semakin hitam pekat jika terus menerus kita menorehkan noda dosa diatasnya. Saking hitamnya hati ini, kesalahan demi kesalahan berikutnya semakin memekatkan warna hitam itu, hingga nyaris tak ada lagi salah dan dosa yang bisa terdeteksi dan tersensor dalam hati, karena cahaya dalam hati ini tak lagi bersinar. Hanya ada satu cara untuk kembali membersihkan hati itu agar kembali fitrah, yakni dengan memperbanyak kebaikan. Dengan itu, cahaya hati yang redup perlahan akan kembali bersinar, memancarkan sinar putih kemilau dari dalam hati yang menenangkan jiwa. Teruslah berbuat kebaikan, agar tak ada lagi warna hitam dalam hati ini, dan yang terpenting, kita takkan malu menghadap Allah dengan wajah dan hati yang penuh sinar putih kesucian. Wallahu ‘a’lam bishshowaab (Bayu Gautama)
Category: 0 komentar

Just Say, Thanks!


eramuslim - Karena terburu-buru, saya lompat dan menerobos masuk ke dalam gerbong yang sudah berjalan pelan, hap, berhasil ! tapi ... ups, sikut saya menghantam pelipis seorang bapak bertubuh tegap yang berdiri di pintu gerbong. Belum sempat saya meminta maaf, karena disibukkan perasaan berkecamuk antara takut kena damprat dan egoisme yang bermain-main di benakku, “salah sendiri berdiri di pintu”, ternyata dia malah berucap, “terima kasih”. Saya jadi malu sendiri, kata maaf tak jadi keluar, malu bercampur kagum mendapati senyum yang keluar dari mulutnya, plus heran, kok tidak marah sekalipun sikut saya cukup keras mengenai pelipisnya. Ingin saya bertanya, apa gerangan yang membuatnya bisa ‘memaafkan’ orang yang berbuat salah terhadapnya, dan justru –ini yang aneh- berterima kasih kepada orang yang berbuat ‘kasar’.
Saya pernah mendengar sebuah kisah, dimana seorang pria yang terkenal beringas, temperamental, mudah terpancing emosinya, dan tidak jarang berkelahi dengan alasan-alasan yang sepele, mendatangi seorang ulama. Kepada sang ulama, pria itu mengeluhkan sikap-sikapnya yang belakangan baru disadari, bahwa ia sangat tertekan dengan semua itu, terlebih terlalu banyak korban dari sifat buruknya itu. terakhir, menurut pengakuannya, ia didamprat habis oleh seorang nenek-nenek akibat ketidakmampuannya menahan emosi. Kepada si pria, ulama itu hanya memberikan satu resep, yakni mencoba menjalani hidup satu hari ini untuk menerima semua perlakuan –seburuk apapun- orang lain terhadap dirinya. Tidak hanya itu, ia pun diminta bersyukur untuk setiap perlakuan buruk yang disengaja maupun tidak dari orang lain terhadapnya.
Maka coba dijalaninya lah satu hari ini sesuai petunjuk sang ulama. Belum sampai matahari vertikal lurus di atas kepalanya, seiring dengan panasnya terik, sebuah mobil yang berjalan perlahan menyenggol pinggangnya dan membuatnya terjerembab. Sopir mobil itu segera turun dan hendak menolong, sekaligus minta maaf, namun “plakk ...” sebuah tamparan keras mendarat di bagian kanan wajah sopir itu, kali ini, ganti ia yang tersungkur. Gagallah pria itu. Padahal sebelumnya, semenjak pagi ia sudah mencoba menahan amarah kepada tukang becak yang hampir menabraknya, terhadap orang-orang yang menginjak kakinya di bus yang penuh sesak, dan termasuk kepada kondektur bis yang lupa mengembalikan kelebihan ongkosnya.
Jengkel, dan kesal merasa dikerjai oleh sang ulama, sore harinya ia mendatangi ulama kediaman ulama itu. Tanpa basa-basi, belum sepatah kata terucap, sebuah pukulan keras mendarat di wajah sang ulama. Tersungkur, jatuh dan dari sudut bibirnya keluar darah, tapi hanya kata “terima kasih” yang terucap. Pria yang tadinya hendak mendamprat habis sang ulama karena mengira resepnya hanya membuatnya semakin ditindas orang dan seperti orang yang tidak punya harga diri, mengurungkan niatnya. Ia berpikir, bagaimana mungkin ada orang yang disengaja dizalimi, tidak marah, dan hanya berucap “terima kasih”. Sedangkan yang baru saja ia lakukan siang tadi, ia menampar penuh amarah sopir mobil yang jelas-jelas tidak sengaja menyerempetnya.
Dari kisah itu, kita bisa berpikir, kalaulah kita mampu menerima dan memaafkan ketidaksengajaan orang lain, meski terkadang menyakitkan, pastilah kita bisa lebih berjiwa besar untuk hal-hal berikutnya. Sang ulama mencontohkan langsung, dizalimi dengan sengaja, ia masih bisa memaafkan, bagaimana dengan orang yang tidak sengaja? maha lapang ruang maaf di hatinya.
Dua belas tahun lalu, saya pernah mengikuti satu pelatihan, dimana salah satu sessi materi dari pelatihan yang berlangsung satu pekan itu, menghadirkan saya di hadapan semua peserta yang lain. Trainer yang memberikan materi pada sessi itu, mempersilahkan semua peserta mengkritik habis, mengevaluasi, bahkan membeberkan sekecil apapun kejelekan, kekurangan saya. Tidak boleh ada yang memuji sekiranya ada satu saja kebaikan pada diri saya. Sebagai manusia yang memiliki sifat defensif, tentu saya harus membantah, berkelit atau berargumentasi terhadap setiap kritik pedas dari teman-teman peserta. Tapi, peraturannya tidak demikian, saya hanya boleh mengucapkan “terima kasih” untuk semua kritikan itu. Awalnya saya masih belum mengerti maksud sessi tersebut, sehingga pada giliran seorang teman lain dihadirkan di depan kelas, saya berpikir inilah saatnya balas dendam. Tapi, entah kenapa, ada perubahan yang hebat sedetik menjelang saya mencoba menghujaninya dengan kritikan. Kritikan tetap meluncur, tapi ianya mengalir dengan tenang, tanpa emosi dan tidak ada motif balas dendam. Terus demikian hingga peserta terakhir menjalani prosesi yang sama.
Setelah pelatihan tersebut, saya baru mengerti, perlu jiwa yang besar, hati yang bersih untuk bisa menerima setiap keadaan yang tidak terduga yang bakal terjadi terhadap diri ini. Langit tak selamanya cerah, demikian halnya dengan hidup, tak selamanya menyenangkan, dan menceriakan. Kekecewaan, kegagalan, ketersinggungan, pengalaman pahit dan hal-hal tidak mengenakkan, pun senantiasa mampir dalam perjalanan kehidupan. Namun, bisakah kita menerima setiap lintasan tidak menyenangkan itu seikhlas saat kita mendapati keberhasilan, dan kesenangan?
Yang jelas, kita perlu sadari, dalam hati manusia sangat mungkin tertanam benih-benih kesombongan, merasa hebat, merasa lebih, yang kemudian semua rasa itu menyesakkan seluruh rongga dada ini. Sehingga kemudian, saat kita mengalami kegagalan, seperti tak ada ruang untuk menerima kekecewaan, ketika secara tak sengaja orang lain berbuat salah, tak ada lagi ruang di bilik hati ini untuk memaafkan.
Pelajaran bersyukur dengan mengucapkan “terima kasih” untuk hal-hal pahit dan jelek, juga kadang menyakitkan kepada kita, akan mampu mengikis habis kesombongan, dan perasaan lebih hebat, lebih baik, lebih segalanya dari orang lain, sehingga untuk kemudian, dada ini layaknya hamparan padang ikhlas yang maha luas yang siap menampung semua kepahitan dan kekecewaan, hati ini seperti lautan cinta dan kasih sayang yang siap memaafkan semua kesalahan orang lain, disengaja ataupun tidak. Kalaulah untuk hal-hal disengaja, kita mampu menerima ikhlas dan memaafkan, bayangkan betapa ringannya sekedar memaafkan perbuatan salah orang lain yang tidak disengaja. Lagipula, sudah barang tentu, seperti saya terhadap orang yang kena sikut di kereta, sungguh takjub dan kagum saya terhadapnya.
Sedikit bersabar dan menahan emosi, kalau perlu berucap “terima kasih” kepada orang yang berbuat zhalim terkadang perlu dilakukan. Hal ini untuk melatih kesabaran kita dan menjadikan kita orang-orang yang berjiwa besar. Namun, seperti kata orang banyak, sabar ada batasnya, saya percaya, pada satu kondisi tertentu, saat diperlukan, memperingatkan orang lain yang tak tahu diri dan keterlaluan, juga wajib dilakukan. Hanya saja, kita punya cara yang beradab, sopan dan tidak menjatuhkan harga diri.
Ngomong-ngomong, saya melirik pria di sebelah saya yang tadi tersikut, dia masih tersenyum. Dan kali ini saya membalasnya dengan senyuman, sambil terus mengira-ngira, jangan-jangan, ini pria yang kisahnya pernah saya dengar itu ... Wallahu ‘a’lam bishshowaab (Bayu Gautama).
Category: 0 komentar

Syukurilah ...


eramuslim - Seorang pemuda tengah duduk termenung meratapi nasibnya, sejak dilahirkan hingga dewasa, ia hidup dengan satu kekurangan, yakni tak dapat melihat. Seringkali pemuda itu memaki nasib, marah pada keadaan dan menyangka Tuhan tidak adil terhadap dirinya. Ia merasa sebagai orang paling malang di muka bumi. Baginya, buat apa Tuhan menciptakan semua keindahan di langit dan bumi, bintang-bintang yang bertebaran, dan rembulan nan elok. Matahari pagi hanya bisa dirasainya lewat sentuhan hangat sinarnya, ia bisa mendengar suara kicau burung namun tak pernah tahu rupanya. Ia sering menikmati gemerisik dedaunan berdesakan diterpa angin yang sejuk, namun, wujudnya hanya bisa disentuh, tak pernah ia tahu hijau warna daun itu.
Pantai di dekat rumahnya, tempat anak-anak dan orang dewasa menikmati sore, hanya bisa dibayangkan keindahannya. Ia tahu pantai itu air, itupun dari ombak yang keras menghantam karang dan sesekali menciprati wajahnya atau malu-malu menghampiri dan menyentuh kakinya di pinggir pantai. Apalagi ketika muda-muda di desanya bercerita tentang senja, ya senja, betapa tak terlukiskan merah sang senja yang selalu hadir melengkapi warna kehidupan setiap insan. Tapi dirinya? Sekali lagi ia mengutuk penderitaannya, menangisi takdirnya yang tak pernah tahu warna merah senja, hijau dedaunan, putih melati, dan birunya laut.
Meski keindahan dan keelokan desa itu tidak akan pernah pudar, sayang, semakin sedikit warga yang bisa menikmatinya. Bukan karena tak cinta, atau tak suka dengan semua kenikmatan yang telah dianugerahkan Tuhan kepada mereka, tapi, warga desa itu semakin lama memang semakin habis karena hidupnya seorang Raja yang gemar memangsa manusia. Setiap akhir bulan, tidak kurang seratus manusia harus menjadi korban kanibalisme sang Raja dan para pengawalnya yang terkenal kejam. Oleh karenanya, tidak heran jika di setiap waktu itu, desa selalu sepi dari lalu lalang warga karena takut tertangkap dan tak pernah kembali.
Namun, tidak bagi pemuda buta itu, baginya, ini kesempatan untuk mengakhiri hidupnya dengan menjadikan dirinya mangsa bagi sang Raja kanibal. Tak seperti warga lainnya yang takut ke pantai atau ke tempat manapun di akhir bulan, ia justru dengan pasrah berjalan kesana-kemari. Akhirnya, ‘keinginannya’ sampai juga, para pengawal raja kanibal menangkapnya dan menghadapkan pemuda itu di istana. Tapi ternyata, pemuda itu berubah pikiran, entah kenapa ia menjadi takut bukan kepalang, ia masih mau hidup, menangislah ia sejadinya bersahutan dengan puluhan orang lainnya yang juga tertangkap.
Waktunya tiba, sang raja memeriksa calon-calon santapannya satu persatu, hingga pada giliran pemuda itu, sang raja agak terkejut. Matanya buta, pikir raja. Untung bagi pemuda itu, raja tak suka makanan yang cacat. Maka ia memerintahkan pengawalnya untuk melepas pemuda itu, dan tetap menjadikan yang lainnya sebagai mangsa.
***
Saudaraku, Sesungguhnya Allah maha adil. Apapun yang Allah berikan kepada kita saat ini, tentunya Dia yang lebih tahu apa yang kita butuhkan untuk menjalani hidup. Apapun yang tidak kita miliki saat ini, seharusnya kita yakini, bahwa kita belum membutuhkannya sekarang, karena pada akhirnya, kita akan menyadari hikmah dari setiap takdir-Nya.
Dia memberikan kelebihan kepada satu manusia dan kelebihan pada manusia yang lainnya. Demikian juga dengan kekurangan, tak ada satu manusia yang tak memiliki kekurangan pada dirinya. Namun kelebihan manusia yang satu terhadap lainnya, sesunggunya terletak pada bagaimana mensikapi kelebihan dan kekurangan tersebut. Sering kali manusia mengumpat atas kekurangan yang diterimanya, padahal pada saat bersamaan, sejumlah kelebihan ia miliki, namun tak pernah disyukurinya.
Saat ini, cobalah menengok kembali perjalanan kita di dunia. Lahir tanpa memiliki apapun, tak bersepatu dan berpakaian. Kini, satu lemari pakaian kita punya. Kenapa? Waktu itu kita belum membutuhkan sepatu dan pakaian bagus. Dulu kita sangat menikmati berjalan kaki atau berdesakan dalam bus, dan kini setelah memiliki kendaraan pribadi, kemudian berpikir, karena dulu belum merasa perlu untuk memiliki kendaraan sendiri. Kuncinya adalah, bagaimana setiap kita menikmati setiap pemberian yang Allah berikan pada kita saat ini dan mensyukurinya. Jika tidak, tak kan pernah nikmat lainnya menghampiri kita, karena janji-Nya memang demikian. Wallahu a’lam bishshowaab (Bayu Gautama)
Category: 0 komentar

Lapangnya Dada


eramuslim - Pada suatu hari ada seorang pemuda yang datang ke rumah seorang kakek yang bijaksana. Pemuda tersebut merasakan hatinya sering gelisah, panik, stress, dan mudah tersinggung sehingga hal itu menyebabkannya selalu berada dalam medan konflik. Untuk itulah ia datang untuk meminta nasehat sang kakek. Kakek itu pun dengan sangat antusias menerima dan mempersilahkannya untuk masuk. Kemudian pemuda itu menceritakan seluruh keluh kesahnya. Sementara sang kakek mendengarkan dengan seksama. Setelah selesai, kakek itu masuk ke dalam rumah kemudian keluar dengan membawa segelas air putih.

"Silahkan diminum” kata sang kakek.
Betapa terkejutnya pemuda itu ketika ia meminum air yang dihidangkan oleh kakek itu.
“Ah… air apa ini kek? Kenapa rasanya asin sekali. Aku belum pernah minum air se-asin ini”.

Sang kakek hanya tersenyum, kemudian mengajak pemuda tersebut ke halaman belakang rumahnya yang luas. Disana terdapat sebuah danau kecil yang airnya bening bersih. Terlihat pula seekor angsa berenang kian kemari. Sang kakek kemudian mendekati pinggir danau dan menaburkan segenggam garam ke seluruh danau sambil menyuruh pemuda itu minum air danau. Tentu saja pemuda itu merasakan air danau yang segar, sejuk dan jernih.
Sang kakek berkata, "Perumpaan gelas dan danau ini adalah seperti hati kita, dan garam sebagai permasalahannya. Terkadang bukan banyaknya masalah yang membuat hati resah, gelisah, dan lainnya. Tetapi karena kita tidak pandai melapangkan dada kita. Segenggam garam ternyata jadi sangat asin dan tidak enak apabila ditaruh pada segelas air. Namun segenggam garam tidak berarti apa-apa apabila kita memiliki hati seluas danau atau lebih luas dari itu".
Cerita diatas sangat menarik untuk disimak dan diresapi karena begitu mudahnya penyakit hati tumbuh berkembang di hati kita. Beratnya masalah tidak mempengaruhi kesehatan hati kalau kita bisa berlapang dada. Orang–orang yang sempit dada (hati), pasti akan merasakan hidup ini sumpek dan berat.
Hati adalah hal yang paling penting dari diri manusia. Menurut Ibnul Qayyim Al Jauziyah, Hati adalah raja, dan anggota tubuh lain prajuritnya. Bahkan diterima atau tidaknya amal seorang anak manusia, tergantung dari hatinya. Allah mengingatkan kita mengenai pentingnya mengelola hati dengan menyuruh kita untuk tidak bersu’udzon karena sebagian darinya adalah dusta. Kita juga dilarang untuk mencari tahu (tajassus), serta selalu mengkonfirmasi setiap berita yang masuk ke kepala kita.

Rasulullah-pun mengingatkan bahwa di dalam diri manusia ada segumpal daging yang kalau baik daging itu maka baik pula seluruh tubuh dan apabila jahat (jelek) maka jelek pula seluruh tubuh. Segumpal daging itu adalah hati.
Kadang rasanya berat sekali untuk melapangkan dada ini ketika dikecewakan dan disakiti oleh orang lain. Bahkan persoalan kecilpun akhirnya menjadi besar karena sempitnya hati ini. Hati yang sempit selalu membuat diri ini tidak mampu menerima kebenaran.
Dalam konsep Zeromind Process (Ary Ginanjar, ESQ) kita diingatkan untuk selalu kembali ke fitrah atau hati nurani (Zeromind) sebelum melakukan dan memutuskan apapun. Hal–hal yang biasanya menghambat dalam melapangkan dada diantaranya adalah: prasangka negatif, pengaruh prinsip hidup, pengaruh pengalaman, pengaruh pembanding, pengaruh kepentingan dan prioritas, pengaruh sudut pandang, dan pengaruh literatur. Wallahu’alam bishshowab (nnf@eramuslim.com)
Category: 0 komentar

Allah Lebih Tahu Yang Terbaik Buat Kita


eramuslim - Sore itu kulihat suamiku mondar mandir keluar masuk ruangan dengan wajah murung. Aku tahu sebabnya, dia tidak diterima dalam seleksi masuk S-2 di sebuah lembaga pendidikan yang dia inginkan, walaupun hasil test dia terbaik dari hasil tes peserta yang lain, dengan alasan suamiku telah diterima di lembaga lain yang masih ada dalam satu naungan.
Suatu hal yang sangat wajar bila dia kecewa. Namun aku mencoba untuk menghibur walau aku sendiri merasakan kesedihan yang sama, dengan mengatakan: "Sudahlah Bi, Insya Allah ada hikmahnya. Mungkin ini pilihan yang terbaik dari AllAh buat kita".
Suamikupun berusaha untuk melapangkan hati, berusaha menghilangkan kekecewaan, dan menjalani pilihan Allah itu dengan sungguh-sungguh. Dengan rasa yakin, Allah pasti memberi yang terbaik.
Benar saja, dalam perjalanan kuliah, Allah memberikan kepada suamiku tempat kerja yang memungkinkan untuk memperoleh beasiswa belajar. Padahal sekiranya suamiku diterima di lembaga yang dia inginkan, tidak ada program beasiswa disana, walaupun diakui secara kualitas pendidikan di lembaga tersebut mungkin lebih baik.
Beberapa bulan sebelum beasiswa turun, negeri ini dilanda krisis ekonomi. Segala kebutuhan pokok naik, biaya transport naik, dan usaha yang dirintis suamiku tidak lancar. Apabila suamiku diterima di lembaga pendidikan yang dia inginkan, mungkin study-nya tidak selesai, dan pekerjaanpun lepas entah kemana.
Inilah sekilas pengalaman pribadi kami, yang mungkin dapat diambil hikmahnya. Bahwa, seringkali kita sulit menerima kenyataan yang ditentukan oleh Allah Sang Penguasa kepada kita. Hingga kita banyak berkeluh kesah, memendam kekecewaan yang panjang dan bersu’udzon kepada Allah. Bahkan ada yang sampai berani mengatakan, Allah tidak adil (na’udzu billahi min dzaalik).
Demikianlah, kehidupan kita senantiasa diwarnai dengan kejadian yang senantiasa berpasangan. Ada senang ada susah, ada kesuksesan ada kegagalan. Yang sering kali kita tidak mengerti dan tidak mampu memahami hikmah dibalik setiap peristiwa. Yang kesemuanya mengajarkan kepada kita untuk senantiasa bersyukur atas setiap rahmat yang dianugerahkan kepada kita, dan bersikap sabar dalam setiap ujian.
Kita harus meyakini sepenuhnya bahwa Allah Pencipta kita, lebih Tahu mana yang terbaik bagi kita. Apa saja yang kita inginkan dan kita senangi, belum tentu baik menurut pandangan Allah. Sebaliknya, apa yang tidak kita inginkan dan tidak kita senangi belum tentu buruk untuk kita, menurut pandangan Allah.
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui" (QS Al Baqoroh : 216).
Sehingga, seharusnyalah kita sebagai ummat-Nya selalu menggantungkan diri kepada-Nya. Mengkomunikasikan segala keinginan kepada-Nya. Memohon petunjuk dan bimbingan untuk dapat memilih yang baik dan meninggalkan yang buruk, dan selalu berprasangka baik kepada Allah atas segala ketentuan yang ditetapkan.
Menyertakan do’a dalam setiap usaha. Dan lapang dada, tawakkal kepada Allah terhadap segala yang terjadi. Sehingga kehidupan ini akan menjadi nikmat dijalani. Nikmat yang dianugerahkan-Nya akan menambah ketaatan kita, dan cobaan yang diberikan akan menjadikan kita lebih dekat kepada-Nya.
"Robbi awzi’nii an asykuroo ni’matakallatii an’amta ‘alayya wa’alaa waalidayya wa an a’mala shoolihan tardhoohu wa ad khilnaa birohmatika fii ‘ibaadikashshoolihiin”.
Ya Robb kami, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku, dan kepada dua orang ibu bapakku, dan untuk mengerjakan amal shaleh yang Engkau ridhoi; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shaleh. (QS An Naml:19). Wallaahu 'a’lam bishshowwab. (Ummu Shofi/ari_aji_astuti@yahoo.com).
Category: 0 komentar