Jumlah Relawan Mulai Berkurang


YOGYAKARTA, KOMPAS - Jumlah relawan di semua posko pengungsian korban letusan Gunung Merapi di Jawa Tengah dan DI Yogyakarta mulai berkurang. Kondisi itu terjadi menyusul aktivitas perkuliahan mulai normal Senin (15/11) ini. Selama ini sekitar 50 persen relawan adalah mahasiswa.
Menurut Koordinator Inter Gugus Tugas Tanggap Bencana Merapi Forum Pengurangan Risiko Bencana, Juli Eko Nugroho, jumlah relawan saat ini baru mencukupi 45 persen kebutuhan di pos pengungsian. ”Relawan di pos pengungsian tidak semua bisa bekerja penuh waktu. Kebanyakan mereka bekerja sesuai agenda pribadi sehingga tidak bisa dipaksakan penuh waktu,” kata Eko, Minggu (14/11).
Di posko pengungsian STIE YKPN, misalnya, 95 persen relawan adalah mahasiswa. Di posko pengungsian GOR Universitas Negeri Yogyakarta juga 150 relawan adalah mahasiswa. Di posko Universitas Sanata Dharma (USD) pun sama. Untuk Senin (hari ini), jumlah relawan di USD misalnya, yang sebelumnya 30 orang per hari kini 4 orang.
”Kalau mahasiswa sudah masuk kuliah, jumlah relawan otomatis akan berkurang. Oleh sebab itu, para pengungsi disiapkan untuk dapat mengelola pengungsian secara mandiri,” kata dosen yang juga relawan di posko pengungsian rusunawa USD, Ign Kristio Budiasmoro.
Relawan hanya bertugas menjaga logistik, sedangkan pengungsi ikut memasak dan menjaga kebersihan posko. ”Konsep pengungsi mandiri dibutuhkan untuk mengelola pengungsian dan bisa mengisi aktivitas sehari-hari di pengungsian,” kata psikolog dari UGM, Diana Setiyowati.
Radius bahaya direvisi
Hari Minggu, Badan Geologi merekomendasikan penurunan radius bahaya primer Merapi. Untuk Kabupaten Magelang dari 20 km menjadi 15 km, sedangkan untuk wilayah Boyolali dan Klaten masing-masing 10 km. Sementara Kabupaten Sleman tetap pada radius 20 km.
Salah satu pertimbangannya adalah energi Merapi telah jauh menurun dari periode letusan besar 3-8 November. ”Namun, status tetap Awas karena masih berbahaya,” kata Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Sukhyar.
Pemantauan pada intake pintu air hulu Selokan Mataram di Sungai Progo ditutup. Di hulu selokan itu dipenuhi endapan pasir dari lahar dingin Merapi. Timbunan endapan material vulkanik juga memenuhi sejumlah cekdam sungai lahar dingin berjarak 10-12 km dari puncak Merapi.
Muntilan menggeliat
Sementara itu, situasi Muntilan, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, kini mulai menggeliat. Para pelaku usaha mulai berbenah dan membuka toko meskipun pembeli masih sedikit. Agar tak terkena debu vulkanik Merapi, pintu toko hanya dibuka sebagian. Beberapa toko bahkan menutup pintu toko dengan plastik transparan yang ditulisi ”Buka”.
Sejumlah pengungsi di Kabupaten Klaten, Boyolali, dan Magelang juga mulai kembali ke rumah masing-masing. Mereka jenuh di pengungsian sehingga ingin mulai beraktivitas mengurus rumah, ternak, dan sawah.
Namun, pengungsi di Kabupaten Boyolali yang kembali ke rumah dibayangi krisis pangan sebab stok pangan yang dimiliki tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan harian sampai kembali mendapatkan penghasilan. ”Sekarang makannya hanya nasi dengan sayur yang tersisa saja karena belum ada uang untuk beli lauk-pauk,” ujar Widodo, seraya mengaku tanaman sayurannya rusak total terkena abu Merapi.
Bantuan Taiwan
Pemerintah Taiwan dan kalangan swasta diwakili Andrew Hsia, Kepala Urusan Ekonomi dan Perdagangan untuk Indonesia, menyatakan empati dan dukacita atas musibah letusan Gunung Merapi. Mereka berharap korban segera bangkit untuk melakukan aktivitas. Bantuan dari Pemerintah Taiwan dan komponen masyarakat lain di negara itu segera tiba di Yogyakarta.
”Barang-barang bantuan yang akan kami kirimkan adalah paling sedikit 10.000 sandal, 10.000 selimut, dan 10.000 pakaian, di samping sejumlah obat-obatan,” kata Hsiao-Tzung mewakili Andrew sambil menyatakan, nilai bantuan itu sekitar 200.000 dollar AS. (art/eng/tht/HRD/ top/hen/who/wie/ilo/egi)


KOMPAS/IWAN SETIYAWAN


Category: 0 komentar

0 komentar:

Posting Komentar